Ketika Gelombang Cuaca Panas Melanda Dunia
- REUTERS/Edgar Su
"Saya di Eropa enam tahun. Saya sangat merasakan musim panas di sana keringnya luar biasa. Sunblock jadi wajib. Nah, mereka (orang Eropa dan Jepang) pada saat musim panas seperti itu kelembapan udara bisa di bawah 50 persen. Tubuh cepat sekali mengalami dehidrasi meski banyak minum. Inilah penyebab utama dehidrasi," kata Siswanto.
Sebelumnya, isu soal Indonesia dalam ancaman gelombang panas yang mematikan telah dibantah BMKG. Hal ini diungkapkanya pada situs bmkg.go.id.
Ancaman gelombang panas di Indonesia belum terbukti secara ilmiah. BMKG menegaskan di dalam makalah ilmiah karya Camilo Mora et al, dari Universitas Hawaii, Amerika Serikat, yang berjudul "Global risk of deadly heat", tidak menyebut secara khusus nama Indonesia.
Mora mengkaji data dari peristiwa gelombang panas yang terjadi di Eropa dan Amerika Utara, sebagian kecil India, China, dan Australia.
BMKG menjelaskan Indonesia juga tidak dimasukkan oleh Mora dalam melakukan kajian data peristiwa gelombang panas mematikan yang terjadi antara tahun 1980-2014.
Selain itu, BMKG menginformasikan bahwa gelombang panas yang berujung kematian belum pernah terjadi di Indonesia.