Ketika Gelombang Cuaca Panas Melanda Dunia
- REUTERS/Edgar Su
"Efek panas yang dialami masyarakat sekarang memang hanya efek dari terik Matahari musim kemarau. Jadi, saat kemarau itu awan di atmosfer berkurang, sehingga radiasi diterima langsung ke permukanan Bumi," jelas dia.
Karena itu, Siswanto melanjutkan, tanpa terserap awan menimbulkan panas yang menyengat di permukaan Bumi. Radiasi Matahari yang diterima permukaan Bumi berupa gelombang pendek.
Kalau efeknya ke kulit berlebihan akan berbahaya akibat pancaran sinar ultraviolet yang merupakan bagian dari radiasi Matahari.
"Ciri-ciri musim kemarau itu terik Matahari maksimum di siang hari dan begitu dingin ketika malam tiba. Kenapa bisa begitu, sebab, panas diterima radiasi langsung tanpa terhalang awan," ungkap Siswanto.
Selanjutnya, pada malam hari proses pelepasan panas dari permukaan Bumi juga tak dihambat awan, di mana radiasi panas permukaan Bumi ke atmosfer lebih besar ketika tidak ada awan yang memantulkan, sehingga dampaknya cuaca menjadi dingin.
Berdampak ke Indonesia?
Lantas, apakah gelombang panas di Jepang dan Korea berdampak pada kemarau di Indonesia?
Siswanto menegaskan tidak saling berdampak. Saat ini wilayah Jepang dan Eropa sedang musim panas, di mana terdapat kondisi suhunya melebihi batas statistik threshold yang paling tinggi.
Gelombang panas di Jepang beberapa hari terakhir disebabkan oleh dua sistem tekanan tinggi berlapis di atmosfer yang mendominasi sebagian besar Jepang, diperkirakan sedikit mereda dalam beberapa hari tetapi suhu diprediksi bertahan sekitar 33 derajat Celsius.
Ketika udara panas berhari-hari disertai dengan kelembapan udara yang terus minim, maka efeknya menjadi kering. Bagi tubuh juga biasanya gelombang panas diperparah dengan kelembapan tanah yang berkurang drastis.
"Makanya, penyebab orang meninggal di sana (Eropa dan Jepang) bukan efek panas suhu di permukaan tapi karena dehidrasi," tegas dia.
Siswanto juga menjelaskan tidak pernah ada kasus orang meninggal karena cuaca panas di Indonesia.
Menurutnya, kelembapan udara di Indonesia pada musim kemarau umunya 70 persen. Kalau musim hujan bisa mencapai 90 persen.
Artinya, dengan kondisi seperti itu tubuh tidak terlalu dehidrasi dengan air minum yang cukup meskipun tubuh menghasilkan keringat.