Saat Jokowi dan Prabowo 'Terganjal' Cawapres
- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Tapi, tetap saja, mereka belum juga bergerak ke KPU, untuk mendaftarkan diri sebagai capres. Tampaknya, keduanya memiliki masalah yang sama. Sama-sama belum memiliki cawapres.
Begitulah fakta yang sampai hari ini bisa dilihat oleh masyarakat. Baik Jokowi maupun Prabowo masih berusaha keras menentukan cawapres yang akan mendampingi mereka tanpa merusak soliditas partai koalisi mereka masing-masing.
Politik Menit Terakhir
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, mengibaratkan situasi ini seperti sebuah permainan sepak bola. Dua kubu dalam posisi saling menunggu untuk mengetahui kekuatan lawan.
"Ibarat bermain bola. Ini seperti Derby (pertarungan antara dua tim besar). Ketika mereka menyusun formasi tim masing-masing, biasanya melihat strategi yang dilakukan lawan," kata Ujang saat dihubungi VIVA, Selasa, 7 Agustus 2018.
Direktur Eksekutif Indonesia Politican Review itu berpendapat penentuan cawapres Jokowi masih menunggu siapa yang akan digandeng Prabowo menjadi cawapresnya. Menurutnya, biasanya strategi akan dilakukan di masa akhir pendaftaran.
"Begitu juga dengan pendaftaran pasangan capres dan cawapres, akan dilakukan di injury time," kata dia.
![]()
Sementara itu, Adi Prayitno dari Universitas Syarief Hidayatullah menegaskan bahwa situasi yang terjadi sekarang ini adalah fenomena politik last minutes. Sebabnya karena para pihak yang akan bertarung ingin mengintip strategi lawan, tak percaya diri, atau belum dapat cawapres.
"Ketiga hal ini paling dominan kenapa masing-masing kandidat belum jua ke KPU," kata Adi saat dihubungi VIVA, Selasa 7 Agustus 2018.
Kemudian, lanjut Adi, strategi mengunci partner koalisi agar tak lompat pagar. Sebab, jika cawapres yang dipilih tak sesuai kehendak partai koalisi partai bersangkutan bisa lompat pagar.
"Sebab itulah daftatnya di last minutes untuk menggembok partai yang sudah berkoalisi tak berubah pikiran," katanya.
Situasi Kubu Oposisi
Pada Minggu, 29 Juli 2018, sebuah forum bernama Ijtima Ulama yang digagas oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) mengeluarkan hasil rekomendasi mereka terkait Pilpres 2019. Mereka merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai capres, dan Salim Segaf Aljufri atau Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres.
Meskipun sudah ada dua nama yang diusulkan, tidak serta merta membuat Prabowo mudah dalam mengambil keputusan. Sebab, di luar dua nama itu, masih ada satu nama yang disebut-sebut sebagai putra mahkota dari Ketua Umum Partai Demokrat, sekaligus mantan Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY.