Rupiah Tersandung Lagi

Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Persepsi Sesaat Pelaku Pasar

img_title DPR Puji Langkah BI Gandeng China, Rupiah Kian Kuat dan Transaksi Dagang Tak Lagi Bergantung Dolar AS

Presiden Turki Tayyip Erdogan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sedangkan, melemahnya rupiah yang terus terjadi dalam dua hari terakhir akibat impact dari krisis ekonomi Turki di akui oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution.

img_title Rupiah Tertekan, BI Perkuat Strategi Jaga Ketahanan Ekonomi dan Kendalikan Inflasi

Menurut dia, dampak krisis ekonomi Turki ke nilai tukar rupiah saat ini lebih disebabkan oleh persepsi sesaat pelaku pasar. Padahal krisis ini hanya bermula pada masalah dalam negeri Turki sehingga bersifat khusus.

"Karena satu negara sebenarnya itu terlalu berlebihan. Turki memang ada hal khusus di sana, sehingga kena dampaknya yang enggak mesti berlaku di negara lain. Namun, setelah kena orang bilang 'oh imbasnya besar' macam-macam," ujar Darmin di Jakarta, Senin, 13 Agustus 2018.

img_title Rupiah Tembus Rp18.049 dan IHSG Ambruk, DPR Sebut Investor Global Sedang ‘Menghukum’ Indonesia

Ia pun menjelaskan, krisis Turki pada dasarnya bermula akibat tindakan pemerintah Turki yang menahan seorang pendeta Evangelis Andrew Brunson. Pendeta itu diadili di Turki atas tuduhan terorisme.

Akibat hal itu, lanjut Darmin, Presiden AS Donald Trump meminta pemerintah Turki untuk melepaskan pendeta tersebut. Trump mendesak pembebasannya dengan menaikkan bea masuk baja dan alumunium asal Turki.

"Ini bukan urusan perang dagang kayak dengan China dan Eropa. Nah dia (Trump) lagi marah saja, kemudian dibebankan bea masuk. Dia tahu, kalau dibebankan bea masuk di Turki ini dampaknya besar. Ini orang kemudian menganggap pastor (Brunson) enggak mau melepas. Ini pasti panjang, kemudian ada pelemahan mata uang Turki, itu saja," tuturnya.

Senada dengan Darmin, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menilai efek dari krisis ekonomi Turki tak panjang ke ekonomi RI. Sebab, kondisi fundamental RI masih terjaga dengan baik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, fundamental ekonomi RI yang baik tersebut terlihat dari capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 yang mencapai 5,27 perse dan defisit transaksi berjalan yang terjaga meski naik sebesar 3 persen PDB.

"Ini masih lebih rendah jika dibandingkan situasi pada saat tamper tantrum 2015 yang bisa di atas 4 persen. Namun kita perlu hati-hati karena lingkungan yang dihadapi berbeda sekali dengan 2015. Waktu itu quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga masih belum dilakukan baru diungkapkan," tutur dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut