Rupiah Tersandung Lagi
- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur, Bambang Prijambodo mengatakan dampak krisis Turki ke Indonesia masih sangat kecil.
Menurut dia, terjadinya pelemahan nilai tukar lira terhadap dolar AS dan membuatnya memasuki krisis keuangan adalah karena faktor domestiknya sendiri, sehingga fundamental ekonomi Turki menjadi kurang baik.
Adapun buruknya kondisi fundamental Turki terlihat dari Defisit Transaksi Berjalan yang terus naik pada 2017 yang mencapai 5,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), utang swasta yang besar dan terlambatnya menaikkan suku bunga acuan bank sentral.
"Jadi ada dampak yang terjadi saat ini ke kondisi rupiah dan pasar modal, meski fundamental dan policy jauh lebih baik dari Turki, karakteristik ekonominya relatif sama," tegasnya kepada VIVA.
Masih Ada Ruang untuk BI
![]()
Melemahnya rupiah terhadap dolar AS yang diakibatkan krisis ekonomi Turki ternyata juga menjadi perhatian sejumlah ekonom perbankan, salah satunya adalah ekonom PT Bank Permata Tbk yang menilai kondisi ini tak panjang.
Menurut dia, pelemahan rupiah yang tak panjang tersebut karena Bank Indonesia selalu berada di pasar dan sudah melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui dual intervention pada pasar valas dan pasar SUN dalam rangka membatasi pelemahan nilai tukar rupiah lebih lanjut lagi.
Selain itu, kondisi perekonomian Indonesia yang relatif lebih kuat dari Turki dan negara berkembang lainnya, yang dilihat dari tingkat utang luar negeri jangka pendek yang relatif rendah, dan cadangan devisa yang jauh lebih kuat dibandingkan kondisi 1998 serta 2008.
"Bahkan Defisit transaksi berjalan pada semester II-2018 diperkirakan akan normalize dan diperkirakan masih di level yang sehat yakni 2,0-2,5 persen terhadap PDB," jelas Josua kepada VIVA.
Oleh sebab itu, Ia menuturkan dalam jangka pendek ini, stance kebijakan moneter BI diperkirakan masih tetap ketat dalam rangka mendorong attractiveness dari aset keuangan berdenominasi rupiah.
Dan jika pelemahan rupiah masih terus berlanjut yang dikarenakan belum meredanya sentimen negatif pada Turki Lira, BI diperkirakan memiliki ruang menaikkan kembali suku bunga acuan pada semester II sebesar 25bps.