Kritik Utang dan Warisan Masa Lalu
- Halomoney
Polemik dari kritikan Ketua MPR Zulkifli Hasan tentang utang pun menjadi bahasan sengit dilingkup partai politik pengusung Jokowi maupun partai oposisi.
Seperti halnya Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuziy, yang menilai kritikan Ketua MPR Zulkifli Hasan bercita rasa oposan.
Menurut dia, pihaknya sangat memahami kritik Zulkifli terhadap pemerintah sebagai konsekuensi otomatis. Sebab, Zulkifli yang juga ketua umum PAN telah mengambil sikap sebagai oposisi.
"Itu sebagai ketua MPR yang bercita rasa oposan. Ya, karena memang itu posisinya oposisi," kata Rommy panggilan akrabnya di gedung DPR, Jakarta, Kamis 16 Agustus 2018.
![]()
Sementara, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto menilai kritik Ketua MPR tidak menggunakan data yang akurat dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR, Kamis 16 Agustus 2018.
Salah satu data yang disoroti Airlangga, yang juga Menteri Perindustrian itu adalah kurangnya kontribusi sektor industri untuk meningkatkan kemampuan ekspor nasional.
Menurut dia, sektor industri di masa pemerintahan Jokowi-JK justru mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sektor itu diklaim memberi kontribusi sebesar 24 persen untuk laju ekonomi nasional.
"18 persen PDB (produk domestik bruto) juga dari itu," ujar Airlangga.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mengatakan, dari kritik yang disampaikan Ketua MPR, seharusnya Sri Mulyani sebagai menteri keuangan bisa menemukan solusi.
Sebab, memang di setiap era pemerintahan presiden pasti terjadi penambahan utang, sehingga sebagai menkeu seharusnya bisa mencari solusi terbaik atas permasalahan keuangan negara dan tidak salahkan pemerintah kemarin.
"Sebaiknya, sumber daya di kementerian dan lembaga ditujukan untuk mencari solusi terbaik mengatasi permasalahan ekonomi makro dan mikro yang menghimpit rakyat ketimbang mencari kesalahan masa lalu," jelasnya. (asp)