Silat Lidah WhatsApp
- REUTERS/Mal Langsdon
Cukup menjalankan skrip dan aplikasi yang dirancang khusus, seseorang bisa mudah memanen data di WhatsApp group.
Dikutip dari Venturebeat, untuk bisa masuk ke grup WhatsApp, peneliti dari Swiss dan Inggris menelusurinya di internet. Peneliti menggunakan alat otomatisasi browser untuk bisa bergabung dengan sekitar dua ribu grup.
Selanjutnya, setelah bergabung, peneliti pun beraksi. Smartphone mereka mulai bisa memanen data. Memang, data di WhatsApp terenkripsi, tapi kunci sandi disimpan di dalam RAM perangkat mobile. Celah ini memungkinkan peneliti membobol data menggunakan teknik yang dikembangkan peneliti India, LP Gudipaty dan KY Jhala.
Celah di enkripsi
Hasilnya, selama periode enam bulan, peneliti dari kedua negara Eropa itu bisa dengan mudah memperoleh data hampir dari setengah juta pesan yang seliweran di antara 45.794 pengguna di 178 WhatsApp group.
Dalam periode tersebut, peneliti bisa mendapatkan nomor ponsel, gambar, video, tautan web yang dibagikan di WhatsApp group. Peneliti juga bisa memantau topik apa saja yang dipergunjingkan WhatsApp group.
Dengan metode tersebut, peneliti Swiss dan Inggris bisa dengan leluasa mengakses data yang diposting di WhatsApp group. Padahal sebelumnya, peneliti tidak bisa mengakses data di grup.
Bukan cuma itu. Mengutip situs Wired, peneliti dari Ruhr-University Bochum, Jerman, Paul Rosler menemukan serangkaian kelemahan pada aplikasi pengiriman pesan terenkripsi.
Sebab, siapa saja yang bisa mengendalikan server WhatsApp, maka bisa memasukkan orang baru ke grup WhatsApp untuk mengontrol percakapan. Rosler mengatakan, seharusnya dengan enkripsi end-to-end, sampai server diakses orang asing pun, pesannya pengguna masih aman.
"Kerahasiaan grup (WhatsApp) rusak setelah anggota tak diundang bisa memperoleh semua pesan baru dan membacanya," ungkapnya. Rosler menuturkan, dalam hal pesan terenkripsi end-to-end, berarti penambahan anggota baru harus mendapatkan perlindungan.
Sebab jika tidak, menurutnya, nilai enkripsi menjadi tak begitu penting. Tak heran, meski WhatsApp menggembor-gemborkan enkripsi end-to-end, ternyata masih ada celah untuk mata-mata.
Sebagai contoh, aktivis hak asasi manusia Zhang Guanghong ditahan pemerintah China setelah mereka memantau percakapan teman Guanghong di WhatsApp. Di WhatsApp group, pemerintah menemukan bukti sang aktivitas bersama teman-temannya mengkritik Presiden China Xi Jinping.