Obat Kuat Pelemahan Rupiah

Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

"Dengan ini (pariwisata), tahun depan defisit transaksi berjalan kita hampir tidak ada atau akan nol," tambahnya.

img_title Rupiah Makin Loyo, Dolar AS Masih Tembus Rp18.000, Ini Biang Keroknya

Naikkan BBM

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

img_title Penyebab Rupiah Melemah Hari Ini, Serangan di Arab Saudi hingga Harga Minyak Dunia Meroket Jadi Biang Kerok

Menteri Keuangan era SBY, M Chatib Basri, mengatakan, terus lemahnya rupiah terhadap dolar AS saat ini, tak jauh berbeda dari faktor yang terjadi sejak 2013 lalu.

Menurut dia, defisit transaksi berjalan salah satu sumber terbesarnya adalah dari defisit neraca minyak dan gas. Karena itu dengan menaikkan harga BBM penugasan yang masih disubsidi pemerintah, secara otomatis bisa mengurangi defisit yang terjadi. 

img_title Rupiah Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Pasar Waspadai Data Inflasi AS

"2013, kita pernah alami seperti sekarang ini (pelemahan rupiah), dan itu bisa stabil kalau BBM dinaikkan," tegas Chatib saat dihubungi VIVA, Selasa 4 September 2018.

Baca juga: Inflasi Terkendali Jadi Andalan RI Jaga Kepercayaan Global

Lebih lanjut dia pun meyakini, kenaikan harga BBM yang dilakukan tidak akan berdampak pada turunnya daya beli, tapi tetap bisa membuat pergerakan rupiah lebih stabil. 

Dalam kesempatan yang sama Anggota Dewan Energi Nasional, Abadi Purnomo mengungkapkan, saat ini Indonesia memang diketahui, masih menjadi negara net importir BBM. 

"Impor kita sehari sekitar 300-400 ribu (boepd / barel oil equivalent per day)," ungkapnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketika ditanya, apakah harga BBM akan dinaikkan demi memperkuat nilai tukar rupiah, Abadi mengatakan, hal itu merupakan keputusan dari badan usaha, yakni PT Pertamina.

"Masalahnya bukan subsidi, masalahnya harga BBM itu semuanya dari Pertamina kan," ucapnya.

Ilustrasi rupiah dan dolar

Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Konflik Houthi dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah sore hari ini ditutup melemah ke Rp18.080 per dolar AS akibat kekhawatiran pasokan energi global, kenaikan harga minyak, dan tekanan fiskal Indonesia.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut