Facebook Tutup Pintu Hoax
- REUTERS/Eric Gaillard
VIVA – Informasi palsu alias hoax menghantui banyak pengguna Internet di penjuru dunia. Hoax membuat kenyamanan pengguna media sosial terusik, sedangkan pihak berwenang di banyak negara dibuat repot menanggulangi kecamuk hoax yang menyerang mereka.
Hoax juga membuat perusahaan teknologi dunia seperti Facebook sampai Google dibikin repot.
Mereka dituntut untuk bisa “turun gunung” menanggulangi penyebaran hoax.
Telunjuk berbagai pihak pun sering mengarah ke Facebook sebagai platform media sosial terkemuka dunia. Hoax umumnya menyebar luas melalui media sosial dan aplikasi perpesanan.
Selama dua tahun belakangan, Facebook sudah berperang membendung hoax pada platformnya. Media sosial ini lebih senang menyebutkan gerakan ini sebagai perang melawan misinformasi atau informasi yang salah dan berita palsu alias false news.
Target pertama Facebook yakni membendung infomasi yang salah dan sejenisnya dalam bentuk artikel yang muncul pada platformnya. Beragam jurus dilakukan Facebook, mulai dari cara mandiri dengan mengembangkan algoritma khusus dan terus merilis teknologi untuk memerangi masalah ini, menggandeng lembaga pengecek fakta pihak ketiga, sampai memberikan peringkat akurasi konten berbasis ulasan dari mitra pengecek fakta.
Media sosial besutan Mark Zuckerberg tak puas dengan membasmi hoax di artikel saja. Namun Facebook menyadari hoax tak cuma nongol di artikel saja, tapi jug pada konten foto dan video.
"Kami saat ini sedang memperluas pengecekan fakta untuk konten foto dan video pada semua 27 mitra di 17 negara di seluruh dunia," ujar Produk Manajer News Feed Integrity Facebok, Antonia Woodford dikutip dari Newsroom Facebook, Jumat 14 September 2018.
Dia meyakini, dengan banyaknya entitas yang terlibat dalam membendung hoax dan false news itu, maka tugas berat untuk mengidentifikasi dan membasmi lebih banyak jenis informasi bisa lebih cepat dilakukan.
Nah, untuk membendung hoax pada konten foto dan video, Facebook berbekal pengalaman dalam penanganan artikel pada platformnya. Masih dengan skema melibatkan pihak ketiga dan dengan menambah kekuatan dengan teknologi kecerdasan buatan dalam bentuk mesin pembelajaran (machine learning/ML).
Kabarnya kecerdasan buatan baru yang dipakai Facebook yakni bernama Rosetta. Dengan teknologi ini, media sosial raksasa ini yakin hoax dan ujaran kebencian pada foto dan video akan lebih cepat terdeteksi.