Facebook Tutup Pintu Hoax

Media sosial Facebook.
Sumber :
  • REUTERS/Eric Gaillard

Sistem akan digunakan pada Facebook dan Instagram. Rosetta bisa juga untuk meningkatkan pencarian foto dan konten di permukaan pada News Feed. AI ini akan bekerja dengan mengekstraksi teks dalam berbagai bahasa dari lebih miliaran gambar serta video secara real time. Intinya Facebook mengombinasikan teknologi yang mereka miliki dengan ulasan dari tim pengecek fakta.

img_title Awas! Ada Akun Facebook Palsu Pakai Nama Dewi Perssik, Udah Centang Biru

Bukan cuma mengandalkan Rosetta saja, Facebook punya teknologi optical character recognition (OCR), yang akan mengekstrak teks dari foto dan membandingkan teks itu dengan berita utama dari artikel pengecek fakta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

img_title Meta Platform PHK Ratusan Karyawan, 5 Divisi Ini Jadi Target Utama

Woodford menuturkan, Facebook sedang mengupayakan cara-cara baru untuk mendeteksi apakah foto atau video telah dimanipulasi. 

Ragam teknologi tersebut, ujarnya, akan membantu mengidentifikasi foto dan video yang lebih berpotensi menipu, dan kemudian diuji dan ditinjau tim pengecek fakta.  

img_title Penampakan Resbob Jalani Sidang Perdana Kasus Ujaran Kebencian

Cara kerjanya

Secara teknis, begitu menemukan atau mendapatkan laporan foto atau video diduga mengandung informasi yang salah, Facebook akan mengirimkannya ke mitra pemeriksa fakta untuk diulas. 

Pemeriksa fakta mitra Facebook sudah punya keahlian dalam mengevaluasi foto dan video dengan teknik verifikasi visual, seperti kapan dan di mana foto atau video diambil. Mereka membaca dan menganalisis metadata konten foto dan video. 

Woodford menegaskan, pengecek fakta mereka bekerja dengan gaya jurnalis investigatif. Mereka menilai kesahihan foto atau video dengan basis data dari riset ahli, akademisi sampai lembaga pemerintah. 

"Sumber-sumber yang digunakan mitra kami bisa dipercaya, sehingga tidak bergantung sama Wikipedia atau informasi lainnya," klaim Woodford.

Sedangkan Produk Manajer News Feed Integrity Facebook , Tessa Lyons mengatakan salah satu tantangan dalam membendung informasi yang salah adalah tak ada satu konsensus atau sumber kebenaran. 

Menurutnya, untuk memastikan seberapa objektif atau salahnya sebuah berita, selalu ada banyak konten dalam area yang abu-abu. 

"Kebanyakan hal ini mungkin hadir di beberapa ruang yang mana orang melihat fakta di sana," ujarnya.  

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengatakan saat informasi yang salah muncul di artikel, maka pertama-tama, Facebook akan menggunakan analisis melalui teknologi dan memprioritaskan ulasan dari pengecek fakta.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut