Penipuan Jual Mobil Bekas Lewat Facebook Masih Mengintai
- Carscoops
Jakarta, VIVA – Penipuan jual beli mobil bekas melalui media sosial, khususnya Facebook, masih marak terjadi hingga saat ini. Modusnya semakin halus dan kerap menargetkan pengguna yang tergiur harga murah serta percaya karena akun penjual terlihat nyata.
Biasanya, penipuan ini diawali dengan unggahan bernuansa emosional. Penjual mengaku sedang menghadapi musibah keluarga, seperti anggota keluarga sakit keras, pindah ke panti jompo, atau harus menjual aset dengan cepat.
Dalam unggahan tersebut, deretan mobil bekas dipajang lengkap dengan foto menarik dan harga yang jauh di bawah pasaran. Mobil-mobil keluaran relatif muda ditawarkan dengan banderol yang sulit dipercaya untuk kondisi normal.
Harga murah inilah yang menjadi pemancing utama korban. Apalagi mobil yang ditawarkan terlihat mulus, bersih, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan berat.
Ilustrasi mobil bekas
- Autoweek
Kepercayaan calon pembeli semakin meningkat karena akun penjual biasanya adalah akun Facebook asli yang sudah lama aktif. Bahkan, tidak jarang akun tersebut merupakan milik teman sendiri atau kenalan di media sosial.
Tanpa disadari, akun tersebut sebenarnya telah diretas. Pelaku mengambil alih akun, mengunci pemilik aslinya, lalu menggunakan identitas tersebut untuk menjalankan penipuan.
Saat korban menunjukkan minat, pelaku akan mengarahkan percakapan ke pesan pribadi. Di sinilah calon pembeli diminta mengirim uang tanda jadi dengan alasan mobil banyak peminat.
Pelaku selalu meyakinkan bahwa uang tersebut nantinya akan dikembalikan. Namun, metode pembayaran yang diminta umumnya melalui transfer instan atau dompet digital yang sulit dilacak dan tidak bisa dibatalkan.
Alasan klasik juga selalu digunakan, seperti penjual sedang berada di luar kota, di rumah sakit, atau sulit menerima panggilan telepon. Komunikasi sengaja dibatasi agar korban tidak sempat berpikir panjang.
Setelah uang dikirim, penjual mendadak menghilang. Pesan tidak dibalas, nomor diblokir, dan unggahan biasanya dibiarkan tetap aktif untuk menjaring korban lain.
Yang membuat situasi semakin memprihatinkan, unggahan penipuan ini sering kali bertahan lama di Facebook. Meski sudah dilaporkan oleh banyak pengguna, proses penanganan kerap lambat atau tidak jelas.