Dolar Gagal Mengadang Laju Motor
- API Event
VIVA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sudah mulai terlihat sejak Februari 2018. Pada akhir Mei 2018, rupiah sempat menguat, namun kembali terpuruk hingga saat ini.
Industri otomotif juga merasakan dampaknya. Para agen pemegang merek kendaraan, baik roda dua maupun empat, tidak bisa bertahan dengan harga jual yang telah diatur sebelumnya.
PT Astra Honda Motor sebagai APM sepeda motor Honda, resmi menaikkan harga kendaraan mereka mulai awal Juli 2018. Hal itu lantaran nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di atas Rp14 ribu selama beberapa waktu terakhir.
Direktur Pemasaran AHM, Thomas Wijaya, mengatakan, beberapa motor yang mengalami perubahan harga berada di segmen skuter matik atau skutik. Seperti PCX, Vario Techno, dan Scoopy. Besaran kenaikannya sekitar Rp100 ribu.
![]()
Jajaran motor gede Honda juga mengalami perubahan harga. Kenaikannya bisa cukup besar, mengingat harga moge dipengaruhi oleh kurs rupiah dan pajak penghasilan impor, yang angkanya baru saja dinaikkan oleh Kementerian Keuangan.
"Kami akan jelaskan ke konsumen, kenapa harga naik cukup besar. Kami berharap, tidak akan terlalu berdampak ke permintaan. Karena, karakter konsumen di segmen big bike berbeda dengan konsumen motor segmen lainnya yang relatif lebih sensitif terhadap kenaikan harga produk," ungkap Thomas.
Hal senada diungkapkan tenaga penjual Kawasaki di Jakarta. Sales yang enggan disebutkan namanya itu menjelaskan, kenaikan harga motor Kawasaki sudah terjadi sejak awal Agustus tahun ini.
“Harga kalau dibandingkan awal diluncurkan beda, ada kenaikan. Tapi, enggak sampai Rp500 ribu kenaikannya. Begitu juga dengan model yang lain," tuturnya.
![]()
Meski demikian, Deputy Head Sales and Promotion PT Kawasaki Motor Indonesia, Michael C Tanadhi tidak mau isu kenaikan harga produknya dikaitkan dengan rupiah. Ia mengaku, koreksi dilakukan akibat bea balik nama.
"Itu bukan karena dolar. Jadi kalau ditanya ada kenaikan lagi untuk motor Kawasaki, tentu saja enggak ada," kata Michael.
Sementara itu, Public Relation Manager PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Antonius Widiantoro mengatakan, dampak kenaikan dolar AS terasa untuk komponen yang masih diimpor.