Mengantisipasi Ancaman Tsunami

Tulisan buatan warga korban gempa dan tsunami di Desa Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu, 3 Oktober 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

"Saya lagi nyusun RPJMD dan kami minta para pakar himpunan ahli geofisika, agar dikasih ilmu yang cukup, agar kami bisa merencanakan pembangunan yang aman," katanya.

img_title BMKG: Gempa Magnitudo 6,4 di Simalungun Tidak Berpotensi Tsunami

Waspada Ombak Tinggi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengimbau para nelayan yang beraktivitas di pesisir selatan Jawa Tengah untuk waspada ombak tinggi. Ombak tinggi itu dipengaruhi oleh perubahan tekanan udara akibat dampak badai tropis yang muncul dari pasifik timur raya Filipina.

img_title Potret Kondisi Sejumlah Wilayah di NTT Pasca Gempa M 7,7

Analis cuaca dari Stasiun Maritim Kelas II BMKG Kota Semarang, Shafira Fani Fadhila, mengungkapkan, peringatan risiko tinggi bagi aktivitas pelayaran tersebut berlaku untuk tujuh hari ke depan. Baik kapal kecil maupun kapal feri agar berhati-hati saat melaut.

"Para nelayan harus berhati-hati, karena ketinggian gelombang laut selatan Jawa Tengah sedang tidak stabil," kata Shafira di Semarang, Kamis, 4 Oktober 2018.

img_title Video Penampakan Detik-detik Air Laut Surut Usai Gempa M 7,7 Guncang NTT

Berdasarkan pengamatan BMKG, tinggi gelombang perairan selatan Jawa Tengah pada Kamis itu mencapai 1,5 meter hingga 2,5 meter. Bahkan, untuk ombak Samudera Hindia kini meningkat hingga 3 meter.

Selain imbauan untuk nelayan, pihaknya juga mengingatkan agar wisatawan yang mengunjungi pesisir pantai Cilacap, Kebumen maupun Yogyakarta untuk ekstra waspada. Terlebih, pengaruh badai tropis itu juga menyebabkan angin yang cukup kencang.

"Tetap jaga kondisi karena angin berubah sangat kencang, ditambah gulungan ombak yang tinggi bisa membahayakan nyawa wisatawan di garis pantai selatan," tuturnya.

Rawan Gempa dan Tsunami

Mochammad Riyadi, dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dalam sebuah seminar nasional menyampaikan bahwa Indonesia memang rawan gempa bumi dan tsunami. Salah satu bencana tsunami yang menjadi titik balik adalah tsunami Aceh pada 2004 yang menewaskan lebih dari 250.000 orang.

Dia menyampaikan, tragedi itu menyadarkan bangsa Indonesia akan pentingnya informasi gempa bumi yang cepat guna mendukung sistem peringatan dini tsunami. Sementara itu, sebelum 2004, Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini tsunami.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, jaringan sensor gempa tidak cukup melingkupi wilayah Indonesia, penentuan parameter gempa membutuhkan waktu di atas 30 menit, minimnya moda diseminasi dalam penyebaran informasi gempa bumi.

Dalam paparannya, Riyadi menyebut bahwa pantai-pantai di sepanjang Pulau Sumatera bagian barat, Jawa bagian selatan, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi, sampai Papua sebagai daerah yang rawan terjadi tsunami.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut