Mengantisipasi Ancaman Tsunami

Tulisan buatan warga korban gempa dan tsunami di Desa Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu, 3 Oktober 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

"Indonesia rawan terhadap bencana tsunami lokal karena sebagian daerah pantainya dekat dengan sumber tsunami. Bencana tsunami dapat terjadi kurang lebih 30 menit setelah gempa bumi terjadi," kata Riyadi dalam salah satu kesimpulannya.

img_title BMKG Pastikan Tak Ada Indikasi Tsunami Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kemudian, peringatan dini adalah kombinasi kemampuan teknologi dan masyarakat untuk menindaklanjuti hasil dari peringatan dini tersebut. Atas ancaman gempa dan tsunami tersebut, dia mengimbau pemerintah daerah perlu memastikan mampu menerima berita gempa bumi atau berita peringatan dini tsunami serta saran dari BMKG secara tepat dan sepanjang waktu melalui berbagai alat komunikasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tidak lupa, dia mengingatkan, gempa bumi yang menjadi salah satu sebab timbulnya tsunami, merupakan gejala alam yang sampai sekarang masih sulit diperkirakan kedatangannya. Maka diperlukan pengembangan teknik prediksi gempa bumi dengan berbagai metode.

img_title NTT Diguncang Gempa 5 Magnitudo

Sementara itu, peneliti tsunami dan gempa bumi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, membenarkan bila Jawa Tengah bagian selatan memang masuk sebagai daerah rawan tsunami. Begitu pula dengan daerah di sepanjang pantai barat Sumatera, selatan Nusa Tenggara, utara Nusa Tenggara. Selain itu, di utara Papua, pantai timur Manado dan Maluku serta pulau-pulau kecil di Kepulauan Ambon.

"Daerah pantai yang berhadapan dengan samudera dan zona subduksi lempeng, rawan tinggi terhadap tsunami," kata dia, Kamis, 4 Oktober 2018.

img_title Pemerintah Minta Masyarakat Tak Termakan Isu Tsunami Buntut Erupsi Anak Krakatau

Widjo mengatakan, tsunami early warning system (TEWS) hanya mengandalkan instrumen di darat dan modeling. Untuk meningkatkan keandalan, lanjutnya, perlu sistem monitoring muka laut.

Namun, persoalannya adalah sistem monitoring muka laut untuk keperluan EWS di Indonesia ini tidak ada. Hanya ada sensor pasang surut.

"TEWS kita ada tapi tidak pakai alat sensor di laut," ujarnya.

Harus Tahu Diri

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Senada, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, juga membenarkan Jawa Tengah merupakan daerah rawan gempa dan tsunami. Sebab, daerah itu berhadapan dengan zona megathrust yaitu pertemuan antara lempeng induk Australia dan Eurasia.

Dia menyampaikan, gempa besar terakhir yang ikut mengguncang Jawa Tengah bagian selatan dan mengakibatkan tsunami terjadi pada 1994 di Banyuwangi, kemudian pada 2006 di Pangandaran dan Cilacap.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut