Ekonomi Dunia Ruwet, Rupiah Makin Loyo
- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Tak sampai di situ, semakin loyonya rupiah pada dolar AS, juga didorong sejumlah sentimen geopolitik di sejumlah negara Eropa, yang ikut menjadi pemicu pola pelemahan rupiah beberapa waktu belakangan ini.
"Ada sejumlah faktor geopolitik, apakah di Eropa maupun di tempat lain, yang memengaruhi perkembangan nilai tukar," kata Perry d ikantornya, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat 5 Oktober 2018.
Perry menuturkan, rupiah yang semakin melemah, juga banyak dipengaruhi oleh sentimen risk on dan risk off, terkait profit taking para investor di pasar keuangan.
"Sentimen risk off dalam beberapa hari terakhir, ternyata mampu menekan nilai tukar rupiah," ujarnya.
![]()
Selain itu, kenaikan suku bunga obligasi 3,23 persen dari Pemerintah AS, ternyata sanggup membuat lapangan kerja mereka tumbuh lebih besar dari perkiraan.
"Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat menguat, dan karena itu, lagi-lagi dalam kondisi ini investor global lebih preference untuk investasi di sana," katanya.
Namun, Perry memastikan, meski tekanan penguatan ekonomi AS menguat, kondisi AS sendiri masih penuh ketidakpastian. Sebab, langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Trump dinilai di luar batas ekonominya.
Salah satu yang menjadi perhatian pasar, lanjut Perry adalah terkait upaya menggenjot ekonomi AS dengan menggunakan kapasitas fiskal AS yang melebihi output-nya dan tidak diimbangin negara-negara maju lainnya.
"Trump genjot fiskalnya pada saat ekonominya di atas kapasitas. Sehingga, menimbulkan ketidakpastian, loh jangan-jangan overheating, nyungsep. Ini yang menjadi ketidakpastian, dia tumbuh sendiri yang lain enggak. Bahkan 2020 diperkirakan jatuh," tuturnya.
Dampak ke APBN dan perbankan?
Sementara itu, melemahnya rupiah hingga menembus di atas Rp15.100 per dolar AS dipastikan tak banyak berdampak ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan, APBN yang sudah dirancang saat ini mampu mengatasi dampak dari pelemahan rupiah yang sudah terjadi dalam beberapa waktu ini.
Bahkan, menurutnya, setiap pelemahan rupiah terhadap dolar AS, dampaknya akan memengaruhi besaran penerimaan negara yang akan jauh lebih besar ketimbang dari pengeluaran negara.