Kontroversi Larangan Jilbab Atlet Judo

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena usai didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta
Sumber :
  • ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan

Pada 31 Juli 2012, IOC dan Federasi Judo Internasional akhirnya sepakat mengizinkan Shaherkani bertanding mengenakan jilbab.

img_title Asian Para Games 2026: Partin Muhlisin Raih Emas Lari 100m Putra T63 Plus Rekor Baru

Hanya saja demi keselamatan nyawanya, disepakati Shaherkani harus mengubah desain jilbab jadi yang lebih aman, dengan ketentuan penutup kepalanya harus ketat dari desain jilbab pada umumnya. Kain jilbab tidak mengitari leher dan di bawah dagu. Sebab bisa menyebabkan atlet tercekik lawan saat bertanding.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan kesepakatan itu, pihak Shaherkani akhirnya membuat desain baru jilbab sesuai ketentuan dan Shaherkani bisa bertanding. Dan pada 3 Agustus 2011, Shaherkani memulai laga perdana internasional di babak penyisihan atau babak 32.

img_title Cetak Sejarah Baru, Tim Para Panahan Indonesia Raih 3 Perak dan 1 Perunggu di Asian Para Games 2026

Aturan dan Prinsip

Menpora Imam Nahrawi dan judoka Miftahul Jannah

img_title Debutan Para Atletik Indonesia Borong 5 Medali di Asian Para Games 2026

Kontroversi di arena blind judo membuat Miftah angkat bicara tentang kejadian yang membuatnya didiskualifikasi.

Ia mengungkapkan dalam pertemuan khusus dengan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, beberapa jam setelah Miftah meninggalkan arena blind judo.

Miftah mengatakan, sebenarnya dia sangat antusias ketika namanya masuk dalam skuat blind judo Indonesia di Asian Para Games 2018 Jakarta, apalagi dirinya dijadikan salah satu ikon untuk mempromosikan kejuaraan itu ke masyarakat.

Cita-cita Miftah tak muluk-muluk, dia hanya ingin mengukir prestasi di kejuaraan tingkat Asia itu agar bisa mengharumkan nama bangsa, agama dan keluarga. Tapi, ada sebuah prinsip yang tertanam pada dirinya tentang jilbab yang dikenakannya.

Miftah mengaku akan tetap mengenakan jilbab meski berlaga di arena. Sayangnya, prinsip itu berbenturan dengan aturan keselamatan atlet yang telah ditetapkan. Miftah juga mengakui sangat mengetahui tentang regulasi itu.

Saat berada di tepi arena blind judo, Miftah dihadapkan pada dua jalan berbeda, antara prinsip diri dan aturan yang berlaku. Akhirnya Miftah memutuskan untuk meneguhkan prinsip dan tak mau melanggar aturan. Karena itulah, Miftah memilih untuk mundur dari ajang itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Peristiwanya Miftah mempertahankan prinsip. Ya regulasinya seperti itu, tapi prinsip aku juga harus dijalani. Sama-sama jalan," kata Miftah.

"Saya harap, teman atlet muslim lainnya bisa tetap menggunakan jilbab saat bertanding. Masalah prinsip dan regulasi, keduanya harus dijalankan, jadi semua keputusan itu harus dihormati," ujar dara berparas manis itu menambahkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut