Kontroversi Larangan Jilbab Atlet Judo

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena usai didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta
Sumber :
  • ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan

Benarkah ada diskriminasi?

img_title Indonesia Wins 29 Gold Medals at Hangzhou Asian Para Games

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena usai didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Blind judo sebenarnya bukan cabang olahraga biasa, terutama jika atlet yang bertanding  memiliki keterbatasan fisik.

img_title Menpora Sambut Kedatangan Kontingen Indonesia yang Berlaga di Asian Para Games 2022

Judo merupakan olahraga kuno asal Jepang yang identik dengan teknik bantingan dan kuncian. Karena itulah, aturan yang ditetapkan  Federasi Judo Internasional (IJF), tidak memperbolehkan seorang judoka mengenakan jilbab.

"Ini memang aturan dari judo internasional, alasannya karena ditakutkan pada saat main bawah (newasa), akan ketarik dari lawannya yang bisa menyebabkan tercekik. Peraturan ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak awal tahun ini. Pada Asian Games 2018, juga sudah diterapkan. Namun, sosialisasinya kepada atlet masih minim," kata Penanggung Jawab Tim Judo Indonesia, Ahmad Bahar, Senin, 8 Oktober 2018.

img_title Saptoyogo Purnomo Pecahkan Rekor, Sabet 3 Emas Asian Para Games 2022 dalam 4 Hari

Sebenarnya apa yang dialami Miftahul Jannah bukan kali ini saja terjadi, tapi juga pernah dialami atlet judo Arab Saudi, Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shahrkhani.

Shaherkani yang ditunjuk mewakili Kerajaan Arab di Olimpiade London 2012, nyaris saja tak bisa bertanding karena terbentur aturan keselamatan atlet judo.

Padahal dia datang ke kejuaraan musim panas itu dengan undangan khusus dari Komite Olimpiade Internasional (IOC). Karena tak ada kompetisi judo yang digelar di Arab.

Shaherkani ketika itu masih memegang sabuk biru. Sedangkan seluruh calon lawannya di Olimpiade London bersabuk hitam.

Untuk mendatangkan Shaherkani bertanding di Olimpade London bukan perkara mudah. Karena ada beberapa syarat yang diajukan Komite Olahraga Arab ke IOC, untuk bisa mengikutsertakan warganya di Olimpiade itu.

Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shahrkhani.

Syarat itu di antaranya, selama di London, panitia tidak boleh menyatukan Shaherkani dengan atlet pria. Selama bertanding, Shaherkani diwajibkan memakai pakaian sopan sesuai hukum Islam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, pada 30 Juli 2012, ternyata Shaherkani baru sadar ada regulasi tentang pakaian atlet judo. Salah satunya tidak memperbolehkan memakai jilbab seperti yang dikenakan wanita Arab.

Ketika itu juga Shaherkani memutuskan untuk mundur dari Olimpiade London jika dipaksa bertanding tanpa jilbab. Kondisi saat itu semakin tak menentu hingga akhirnya ayah Shaherkani berbicara langsung pada penyelenggara Olimpiade, bahwa putrinya ingin mencetak sejarah baru bagi wanita Arab, bisa bertanding di ajang kejuaraan dunia dengan pakaian sopan seperti diatur hukum Islam.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut