Kontroversi Larangan Jilbab Atlet Judo
- ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan
Benarkah ada diskriminasi?
![]()
Blind judo sebenarnya bukan cabang olahraga biasa, terutama jika atlet yang bertanding memiliki keterbatasan fisik.
Judo merupakan olahraga kuno asal Jepang yang identik dengan teknik bantingan dan kuncian. Karena itulah, aturan yang ditetapkan Federasi Judo Internasional (IJF), tidak memperbolehkan seorang judoka mengenakan jilbab.
"Ini memang aturan dari judo internasional, alasannya karena ditakutkan pada saat main bawah (newasa), akan ketarik dari lawannya yang bisa menyebabkan tercekik. Peraturan ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak awal tahun ini. Pada Asian Games 2018, juga sudah diterapkan. Namun, sosialisasinya kepada atlet masih minim," kata Penanggung Jawab Tim Judo Indonesia, Ahmad Bahar, Senin, 8 Oktober 2018.
Sebenarnya apa yang dialami Miftahul Jannah bukan kali ini saja terjadi, tapi juga pernah dialami atlet judo Arab Saudi, Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shahrkhani.
Shaherkani yang ditunjuk mewakili Kerajaan Arab di Olimpiade London 2012, nyaris saja tak bisa bertanding karena terbentur aturan keselamatan atlet judo.
Padahal dia datang ke kejuaraan musim panas itu dengan undangan khusus dari Komite Olimpiade Internasional (IOC). Karena tak ada kompetisi judo yang digelar di Arab.
Shaherkani ketika itu masih memegang sabuk biru. Sedangkan seluruh calon lawannya di Olimpiade London bersabuk hitam.
Untuk mendatangkan Shaherkani bertanding di Olimpade London bukan perkara mudah. Karena ada beberapa syarat yang diajukan Komite Olahraga Arab ke IOC, untuk bisa mengikutsertakan warganya di Olimpiade itu.
![]()
Syarat itu di antaranya, selama di London, panitia tidak boleh menyatukan Shaherkani dengan atlet pria. Selama bertanding, Shaherkani diwajibkan memakai pakaian sopan sesuai hukum Islam.
Namun, pada 30 Juli 2012, ternyata Shaherkani baru sadar ada regulasi tentang pakaian atlet judo. Salah satunya tidak memperbolehkan memakai jilbab seperti yang dikenakan wanita Arab.
Ketika itu juga Shaherkani memutuskan untuk mundur dari Olimpiade London jika dipaksa bertanding tanpa jilbab. Kondisi saat itu semakin tak menentu hingga akhirnya ayah Shaherkani berbicara langsung pada penyelenggara Olimpiade, bahwa putrinya ingin mencetak sejarah baru bagi wanita Arab, bisa bertanding di ajang kejuaraan dunia dengan pakaian sopan seperti diatur hukum Islam.