Geger YouTube Tumbang
- Instagram/@marissa_dikaia
![]()
YouTube tumbang memang membuat galau dan resah. Namun, Rade kurang sepakat, tumbangnya platfom video itu membuat hidup menjadi mati kutu atau membeku. Artinya, tak otomatis pengguna internet tak bisa hidup tanpa adanya YouTube.
Rade menjelaskan, saat YouTube tumbang, pengguna internet jika memang penting bisa memanfaatkan saluran internet lain, misalnya Google dan lainnya.
"Jadi enggak juga kalau dibilang enggak bisa hidup. Manfaatkan channel lain saja," tuturnya.
Untuk itulah, dia berpandangan idealnya YouTuber memang tidak cuma mengandalkan saluran YouTube, untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Jadi saat YouTube tumbang, YouTuber bisa memanfaatkan saluran lain untuk tetap menjaga peluang mendapatkan penghasilannya.
"Kita jangan taruh telur di satu keranjang. bisa pecah semua, taruh di keranjang lain,” sarannya.
Dia meyakini, konten kreator yang sudah paham dengan industri digital, mereka akan memetakan serta mendiversifikasi saluran konten, tak cuma mengandalkan YouTube.
Untuk pemasaran, memang tak semuanya ideal dilakukan di platform YouTube. Sebab, menurut Rade, masing-masing platform internet mewakili potret diversifikasi layanan dan bisnis.
Selain itu, masing-masing platform punya kekhasan dan keunggulannya masing-masing. Rade menyebutkan, YouTube unggul dalam keyword yang cepat dan informasi tutorial visual, sedangkan Instagram dalam hal ini kurang bagus karena platform ini berbasis timeline.
Dalam konteks pemasaran, menurutnya, tidak ada hukum saluran paling bagus atau lemah. Sebab, tergantung dari target pemasarannya. Misalnya jika ingin menggaet pasar di YouTube maka saluran pemasaran yang utama ya YouTube.
"Ada beberapa online shop yang pakai Instagram juga sukses nyatanya. Ada juga tipe bisnis lain, bisa pakai YouTube sebab pakai Instagram enggak cocok," katanya.