Kontroversi Menjual Nostalgia Orde Baru
- Istimewa.
Tidak Gampang
Atas isu yang bergulir di kubu kompetitor, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf, Ace Hasan Syadzily, mengingatkan bahwa tidak gampang untuk mewujudkan swasembada pangan. Pemerintahan Orde Baru saja membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk swasembada beras.
"Baru 1984, pemerintahan Soeharto mampu menghasilkan swasembada," ujar Ace saat dihubungi VIVA, Rabu, 21 November 2018.
Tapi bila yang dimaksud dengan swasembada adalah produksi beras itu surplus, maka sejak tahun 2011 hingga 2017 tren kenaikan produksi beras terus mengalami kenaikan yakni 65,75 juta ton pada tahun 2011 dan 81,38 juta ton pada tahun 2017.
"Capaian 2017 sebenarnya sudah melampaui target produksi beras yang ditetapkan yakni sebesar 79 juta ton, membuat pertumbuhan capaian dari tahun sebelumnya sebesar 2,56%," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, lanjutnya, surplus beras tahun 2017 terhitung 13,81 juta ton. Surplus tersebut dihitung dari jumlah produksi dikurangi angka total kebutuhan beras/konsumsi, yakni berdasarkan jumlah penduduk dikalikan tingkat konsumsi per kapita.
"Angka produksi 2017 padi 81,3 juta ton atau setara beras 47,29 juta ton, dan pertumbuhan penduduk menjadi 261,89 juta jiwa dikalikan tingkat konsumsi 114,6 kg, maka total konsumsi beras mencapai 33,47 juta ton. Dari perhitungan tersebutlah angka surplus beras diperoleh," katanya.
Menurut data, kata Ace, memasuki dekade 1990-an, Indonesia terpaksa kembali mengimpor beras dari negara lain. Bahkan, pada 1995, ketergantungan terhadap impor beras melambung hingga mencapai angka sekitar 3 juta ton.
"Situasi beranjak parah lantaran kala itu krisis ekonomi mulai mengintip kawasan Asia, yang kemudian benar-benar melanda Indonesia pada 1997 dan 1998. Data BPS dan Kementerian Pertanian menyebutkan, produksi beras nasional tahun 1998 hanya sekitar 33 juta ton, sedangkan konsumsinya mencapai lebih dari 36 juta ton," ujarnya.
Sedangkan, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan, Achmad Baidowi, menyebut bahwa Orde Baru punya sejarah kelam selama 32 tahun dan kemudian ditumbangkan oleh reformasi. Karena itu, dia heran bila ada wacana mengembalikan era tersebut.
"Kok mau dihidupkan kembali?" kata dia saat dihubungi VIVA, Rabu, 22 November 2018.
Baidowi menegaskan kondisi dan perkembangan politik di lapangan sudah jauh berbeda. Baginya, terlalu banyak hal buruk di masa pemerintahan Soeharto.