Kontroversi Menjual Nostalgia Orde Baru
- Istimewa.
"Apakah yang mau dihidupkan, gaya otoritarianisme? Atau praktek KKN-nya atau militerisasi atau yang Petrus?"
"Rindu apanya? Masyarakat yang mana? Nggak usah jauh-jauh, coba tanya ke korban Trisakti. Belum lagi kalau ditanya para aktivis korban represif," katanya.
Untung atau Rugi
Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai bisa saja manuver Titiek itu merupakan jualan dan strategi Partai Berkarya. Dan, menurutnya, itu sah-sah saja.
"Mungkin saja sebagian masyarakat rindu zaman Orba, tapi rindu kehidupan yang stabil secara ekonomi. Namun secara politik masuk kategori masa otoritarianisme. Jika pun ada yang rindu zaman Orba, itu karena sebagian orang membandingkan masa pasca reformasi, kehidupan masyarakat tidak banyak berubah," kata dia saat dihubungi VIVA, Rabu, 21 November 2018.
Ujang mengatakan boleh saja mengambil sesuatu yang positif dari Orba, tapi harus juga membuang yang negatifnya.
![]()
"Rindu atau tidaknya masyarakat terhadap Soeharto dan Orba, akan terlihat di hasil Pemilu 2019 nanti. Jika Partai Berkarya mengusung program-program Orba menang, itu menandakan masyarakat rindu.
Tapi jika kalah, atau tidak lolos ke Senayan maka Orba tidak dirindukan oleh masyarakat," kata dia.
Lantas, apakah isu kembali ke zaman Orde Baru Soeharto itu menguntungkan atau justru menggerus elektabilitas Prabowo-Sandi?
"Kontra produktif, tidak menguntungkan Prabowo-Sandi. Karena kampanye modern itu harus progresif dan ke depan bukan kembali ke belakang," tuturnya. (ren)