Terpaan Bencana Pengujung Tahun

Tim SAR gabungan evakuasi korban longsor di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat.
Sumber :
  • BNPB

Hingga Selasa, 1 Januari 2019 sekitar pukul 19.00 WIB, korban meninggal mencapai 11 orang. Sedangkan korban yang masuk dalam daftar pencarian yaitu 24 orang. “Data sementara hasil koordinasi dengan Bupati, Kapolres, Dandim, Koordinator Pos Sukabumi dan Kepala Desa Sinar Resmi yang meninggal 11 orang,” ujar Joshua.

img_title Pemerintah Minta Masyarakat Tak Termakan Isu Tsunami Buntut Erupsi Anak Krakatau

Pasca Tsunami Banten

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jatuhnya korban longsor itu menambah panjang daftar korban akibat beragam bencana di Tanah Air sepanjang 2018. Berdasarkan data BNPB, sejak awal tahun hingga 30 Desember 2018, pukul 08.00 WIB, telah terjadi 2.564 bencana. Akibatnya, 3.349 orang meninggal, 1.432 orang hilang, 21.064 orang luka-luka, 10,2 juta orang mengungsi dan terdampak, dan 319.527 unit rumah rusak.

img_title Badan Geologi: Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca 2018 Relatif Kecil

Dari jumlah 2.564 bencana, terdapat 2.481 (96,8 persen) bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan angin puting beliung. Kemudian, terdapat 83 (3,2 persen) bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api. 

Tahun 2018, bencana geologi, khususnya gempa bumi dan tsunami, menyebabkan dampak yang lebih besar. Gempa bumi diikuti tsunami dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada 28 September 2018, misalnya. Peristiwa itu mengakibatkan 3.475 orang meninggal dan hilang, 4.438 orang luka-luka, 221.450 orang mengungsi dan terdampak, dan 68.451 unit rumah rusak berat.

img_title Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

Kemudian bencana tsunami di Selat Sunda, pada 22 Desember 2018, telah menyebabkan 453 meninggal dan hilang, 14.059 luka-luka, 41.132 mengungsi dan terdampak, serta 2.259 rumah rusak.

Petugas BMKG melakukan pemantauan kondisi gelombang air laut pascat sunami di wilayah pesisir Banten dan Lampung di Pelabuhan Merak, Banten

Menyusul terjadinya tsunami di Selat Sunda,  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memasang enam seismograf di sekitar Gunung Anak Krakatau. Enam seismograf itu mulai dioperasikan Selasa, 25 Desember 2018, yaitu tiga di wilayah Banten dan Lampung.

"Karena itu dengan seismograf yang dimiliki BMKG ini, dengan mengepung Gunung Anak Krakatau diharap dapat mencatat. Kalau satu sensor mencatat itu setelah diatur dia akan mengeluarkan alarm," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono  saat konferensi pers di kantor BMKG, Jakarta, Selasa malam, 25 Desember 2018.

Bouy Merah Putih

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adapun Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bakal memasang buoy atau alat deteksi tsunami, di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, dalam waktu dekat ini. BPPT menjamin terpasangnya buoy tersebut bisa mendeteksi potensi tsunami secara real time dan akurat. 

"Buoy yang akan dipasang itu dinamakan buoy Merah Putih. Alat ini penting sebagai peringatan dini, agar penduduk di wilayah yang berpotensi tsunami memiliki waktu untuk dapat dievakuasi ke shelter terdekat," kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPPT Hammam Riza seperti yang dikutip melalui situs resmi BPPT, Selasa, 1 Januari 2019.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut