Terpaan Bencana Pengujung Tahun
- BNPB
![]()
Buoy akan dipasang pada jarak 100-200 kilometer dari bibir pantai. Alat tersebut dapat mengirim data terbaru, ketika terdapat gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi tsunami. Hitungannya, jika kecepatan gelombang tsunami antara 500-700 kilometer per jam, minimal ada waktu sekitar 10-15 menit untuk evakuasi masyarakat ke shelter terdekat.
Jika ada gelombang yang melewatinya, Reza menjelaskan, sinyal dari buoy di tengah laut itu akan semakin intens mengirimkan sinyal ke pusat data early warning system secara real time. “Semakin tinggi dan kencang gelombang maka sinyal yang dikirim frekuensinya akan semakin rapat dan bisa berkali-kali dalam hitungan detik,” ujarnya.
BPPT akan menempatkan tiga buoy di wilayah prioritas berdasarkan kajian tsunami. Untuk sementara, bouy akan ditempatkan di kompleks Gunung Anak Krakatau dan Zona Subduksi Selat Sunda.
Tak hanya itu. BPPT pun bakal memasang kabel bawah laut atau cable based tsunameter (CBT). Sifatnya akan saling melengkapi dengan buoy sehingga deteksi tsunami akan semakin akurat. CBT telah dikembangkan di beberapa negara, seperti Kanada, Jepang, Oman, dan Amerika Serikat. BPPT menyatakan telah menyiapkan kabel sepanjang tiga kilometer.
![]()
Namun, pemasangan bouy itu bukan tanpa kendala. Sebab, proyek ini butuh biaya banyak. Untuk satu unitnya, termasuk pemasangan dan pemeliharaan bisa menghabiskan dana hingga Rp5 miliar. “Revitalisasi ini kita oprek lagi dari buoy yang rusak akibat vandalisme. Kita gunakan panel tenaga surya untuk sumber tenaganya, serta kita upayakan semua sensornya lengkap kembali,” kata Riza.
Sutopo pernah mengungkapkan, alat pendeteksi tsunami sudah rusak sejak 2012. Menurut dia, alat pendeteksi tsunami yang merupakan hibah dari Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia itu dirusak oleh pelaku vandalisme hingga alat itu tak lagi berfungsi.
Nantinya jika bouy telah terpasang, Riza meminta masyarakat ikut menjaganya karena alat ini dibangun negara untuk menyelamatkan masyarakat. (hd)