Pertemuan Sia-sia Trump dan Kim
Puncaknya adalah ketika Korea Utara meluncurkan kembali uji coba nuklir mereka, yang dibarengi dengan sesumbar Jong-un bahwa senjata terakhir yang mereka uji coba mampu meremukkan sepertiga wilayah Amerika.
Dalam pertemuan di Singapura, harapan terjadi perdamaian dunia terbuka lebar. Apalagi, sebelum pertemuan Trump sempat mencuitkan perasaan dan harapannya.
"Ini akan menjadi hari yang menyenangkan, dan saya tahu Kim Jong-un akan bekerja sangat keras untuk melakukan sesuatu yang jarang dilakukan sebelumnya, membuat perdamaian dan kesejahteraan untuk Tanah Airnya," cuit Trump melalui akun Twitternya, Juni tahun lalu.
Kedua pemimpin saling berupaya kuat untuk memperbaiki hubungan. Keberatan Kim Jong-un soal latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Utara didengarkan oleh Trump. Pemimpin AS itu berjanji akan mempertimbangkan kembali latihan militer bersama.
Sebaliknya, Korut juga mendengarkan AS yang meminta agar terjadi perlucutan senjata nuklir. Sebagai salah satu bentuk komitmen, Korut bahkan siap menutup salah satu situs uji coba rudal terbesar mereka.
Langkah itu menjadi kesepakatan keduanya dalam pertemuan di Singapura. Pertemuan berakhir dengan kesepakatan akan ada pertemuan berikutnya.
Sayangnya, pembicaraan denuklirisasi yang tak terinci perlahan menguap. Trump dan Jong-un kembali menunjukkan gejala ketegangan. Meningkatnya tensi antara AS dan Korut mulai terbaca oleh Korea Selatan.
Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in memutuskan untuk mengambil peran. Apalagi, kedua pemimpin Korea telah mencatat sejarah penting dengan melakukan pertemuan kembali setelah terpenjara perang dingin selama puluhan tahun.
Pada pertemuan dengan Kim Jong-un yang dilakukan pada September 2019, Moon Jae-in meminta agar Korut tetap bersedia berdialog dengan AS.
Jong-un rupanya mendengarkan rekannya sesama Korea. Ia menyatakan bersedia mendengarkan saran dan permintaan pemimpin Korea Selatan. Sejak itu, jalan dialog kembali terbuka. AS sempat menanggapi dengan dingin.
Sadar diabaikan AS, pada pidato menyambut tahun baru 2019, Presiden Korea Utara menyampaikan pidato yang isinya 'setengah' mengancam AS.
"Jika AS tidak menepati janjinya di depan seluruh dunia dan menegaskan sanksi serta tekanan pada republik kita, kita mungkin tidak ada pilihan lain selain mempertimbangkan cara baru untuk melindungi kedaulatan dan kepentingan kami sendiri," ujar Kim dalam pidato tahun barunya.