Dilarang Menyebut Kafir

Munas Alim Ulama Konbes NU
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

Adi mengatakan sesudah Pilkada DKI Jakarta, banyak kelompok ormas yang menyuarakan jargon-jargon Islam, dan mengkafir-kafirkan kelompok lain. Dalam konteks itulah, menurutnya, NU menetralisirnya.

img_title Sekjen Himanu: Hasil Muktamar NU Bisa Dianulir Jika Terbukti Ada Politik Uang

"Istilah kafir sah-sah saja digunakan di internal umat Islam. Tapi ngatain orang kafir dalam kehidupan bernegara kurang pas. Nonmuslim sebaiknya panggil agamanya, Kristen, Buddha, Hindu, dan lain-lain," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adi menambahkan bahwa sesama muslim yang ideologinya tidak sejalan pun disebut kafir. Karena itulah, PBNU mengeluarkan keputusan menghilangkan kata kafir terutama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

img_title Pengasuh Ponpes di Bali: Muktamar NU Bukan Sekedar Pilih Ketum, tapi Juga Pemimpin Visioner

"Apa pun agamanya, jangan ada istilah kafir, enggak pantas," ujarnya.

Menurut Adi, orang-orang non muslim itu sebenarnya adalah orang-orang yang beriman juga. Tapi, bedanya, Tuhan mereka dengan Tuhan orang Islam saja yang berbeda. (ase)

img_title Ribuan Santri Dikerahkan Sambut Presiden Prabowo di Muktamar ke-35 NU
Presiden RI Prabowo Subianto terima kartu anggota NU

Prabowo Terima Langsung Kartu Anggota NU, Berlaku Seumur Hidup

Presiden RI Prabowo Subianto menepati janjinya untuk kembali menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) setelah menerima kartu anggota NU yang berlaku seumur hidup

img_title
VIVA.co.id
31 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut