Pemilu 2019, Kuburan Parpol Kecil dan Menengah

Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (kedua kiri) melambaikan tangan saat mendaftarkan partainya ke KPU Pusat di Jakarta
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

“Perindo itu kurang apa. Iklan di televisi, tiap hari. Tapi surveinya kecil. NasDem tiap hari masuk televisi, hasil surveinya juga kecil. Ini yang saya sebut antiteori. Dulu kan teorinya semakin banyak sosialisasi, semakin banyak secara elektoral,” ujarnya kepada VIVA beberapa waktu lalu.

img_title Pendapat Ahli di Sidang MK soal Foto Editan Evi Apita

Pria yang akrab disapa Cak Imin ini mengatakan, PT 4 persen sebenarnya tak tinggi. Menurut dia, itu dilakukan agar ada seleksi alamiah. PKB bahkan menginginkan angka PT 5 persen agar seleksinya betul-betul natural dan stabil. “Jadi tidak terlalu banyak pilihan seperti sekarang ini.” Menurut Cak Imin, idealnya hanya ada 5 partai di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perindo menanggapi dingin hasil survei Litbang Kompas. Sekjen Perindo Ahmad Rofik mengatakan, meski menurut litbang kompas tidak lolos, tapi menurut survei yang lain lolos. "Biar saja. Toh survei Kompas selalu tidak pernah presisi dengan hasil," ujar Ahmad Rofik kepada VIVA, Kamis, 21 Maret 2019. 

img_title KPU Tetapkan Caleg dari Empat Provinsi Setelah Putusan MK

Menurut dia, Perindo tidak ambil pusing dengan hasil survei. Karena, perjuangan Perindo bukan hanya sekedar lolos PT, tapi untuk pemenangan. "Double digit adalah tujuan dari perjuangan ini," ujarnya menambahkan. 

Ahmad Rofik juga membantah Pemilu yang digelar serentak akan membuat konsentrasi dan fokus partai terbelah. Menurut dia, perpaduan antara struktur, caleg, program, saksi dan iklan di media adalah kunci kemenangan. “Kami sangat meyakini, Perindo akan menjadi besar di Pemilu kali ini. Perindo bekerja untuk pemenangan Pilpres dan Pileg dalam satu tarikan nafas. Kami lakukan secara bersamaan. Jadi sama sekali tidak ada problem,” ujarnya. 

img_title MK Putuskan Setop 14 Perkara Sengketa Pileg 2019

Wasekjen PPP Achmad Baidowi juga memilih tak ambil pusing dengan hasil survei Litbang Kompas. "Biasa saja," ujarnya kepada VIVA, Kamis, 21 Maret 2019. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, survei kompas memang selalu mengatakan PPP tak lolos PT. "Bisa dicek di setiap survei menjelang pemilu. Kami mau lolos Pemilu, bukan lolos survei," ujarnya menambahkan. 

PPP bukan partai baru. Partai ini adalah leburan dari berbagai partai Islam pada tahun 1973. Namun Litbang Kompas menyebut PPP sebagai salah satu partai yang akan tergerus di Pemilu kali ini. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut