Meredam Polarisasi di Pilpres 2019

Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Polarisasi yang sudah terlihat harus diredam, agar tak semakin meruncing. Darsono mengingatkan, jangan sampai hajatan pilpres lima tahunan, justru menjadi momen perusak demokrasi.

img_title Cabut Gugatan Ijazah Gibran, Denny Indrayana Bocorkan Alasannya

Elite sebagai calon pemimpin, mesti cermat memilah-milah sikap dan ucapan. "Bagaimana merawat persatuan itu yang penting. Panas, tetapi elite-elite ini harus bijak menyampaikan sikap politik," kata Guru Besar Sosiolog Universitas Brawijaya, Darsono Wisadirana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Baca: Khatib di Masjid Prabowo Salat Jumat Bicara Persatuan Umat

img_title Bila Jokowi Hadir di Sidang Ijazah, Dokter Tifa Ingin Gali Keterangan Ayah Gibran Melalui 712 Dokumen

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengatakan, polarisasi muncul karena hanya dua calon pemimpin yang bersaing merebut kursi takhta RI-1.

Ia memberikan catatan, perlunya dua pasangan capres dan cawapres yang bersaing memperlihatkan saling rangkul untuk memberikan contoh ke elite pendukung dan masyarakat.

img_title Prabowo Kasih Bonus Atlet Peraih Emas hingga Perunggu pada Asian Games dan Para Games 2026

Bagi dia, hal ini penting, mengingat budaya masyarakat Indonesia yang masih ikut terhadap pemimpin. Maka itu, calon pemimpin harus memberikan contoh.

"Seperti penutupan debat keempat kemarin. Itu bagus bisa meredam. Pak Jokowi ingin menjaga persahabatan dengan Pak Prabowo. Demikian sebaliknya. Hal seperti ini yang harus diulangi dua capres dan cawapres kita," ujar Hendri kepada VIVA, Senin 8 April 2019.

Baca: Jokowi: Percayalah Pak Prabowo, Persahabatan Kita Tak Pernah Putus

Pendukung capres nomor urut 02 menyaksikan debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu, 30 Maret 2019.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago tak menampik polarisasi yang semakin terlihat jelang pencoblosan. Ia setuju dengan saran, agar tak memainkan isu yang meruncing polarisasi.

"Ya benar, kita memang enggak boleh menghadap-hadapi rakyat. Presiden Jokowi kan, juga sudah bilang kontestasi politik harus riang gembira," ujar Irma.

Namun, ia mengklaim, pihaknya wajar berupaya memperjuangkan tak perlu ganti presiden. Kata dia, selama ini, TKN berusaha meredam polarisasi. Tetapi, tidak dengan kubu rival, yaitu elite pendukung Prabowo Subianto.

"Pihak sebelah mengatakan, 2019 ganti presiden. Mereka bilang berhak, dengan cara memancing. Silakan, tetapi ada yang harus dikedepankan," tutur Irma.

Selanjutnya, Kedepankan Rasional

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kedepankan Rasional

Kubu pendukung Prabowo Subianto dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) ikut bersuara. Juru Bicara BPN, Suhud Alynuddin mengingatkan beda pilihan politik di pilpres adalah hal yang wajar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut