Meredam Polarisasi di Pilpres 2019
- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Namun, ia menyindir, ada segelintir pihak yang menganggap pilpres sebagai pilihan hidup mati. Pihak ini, menurutnya, yang melakukan segala cara untuk memenangkan capres yang didukungnya.
"Sehingga, siap melakukan apa saja untuk capres yang dibelanya. Namun, kami kira orang-orang seperti itu tidak banyak. Lebih banyak masyarakat yang bersikap mengedepankan rasional," ujar Suhud kepada VIVA.
![]()
Dia menjelaskan, memang diperlukan peran elite politik dalam meredakan suhu panas di akar rumput. Maka itu, ia setuju bahwa elite dari dua kubu harus hati-hati menyampaikan pernyataan.
"Karenanya, elit harus hati-hati dalam menyampaikan statement, tidak provokatif dan memilih diksi yang sifatnya menciptakan suasana damai," tutur Suhud.
Lalu, ia menyinggung wasit, yaitu lembaga penyelenggara pemilu yang mesti netral dan adil. Kepercayaan publik harus dijaga. "Tidak boleh, tampak seolah-olah berpihak pada satu pihak. Harus menjaga kepercayaan publik pada penyelenggara pemilu," ujar politikus PKS itu.
Baca: Zulkifli Hasan: Jokowi-Prabowo Berpelukan, Masa Pendukungnya Berantem
Pentingnya lembaga penyelenggara pemilu harus adil juga menjadi catatan penting. Penyelenggara pemilu seperti Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus bekerja untuk kepentingan bangsa.
"Penyelenggara Pemilu, harus jadi wasit yang adil dan profesional. Bekerja dengan baik untuk kepentingan bangsa. Tidak bekerja untuk kepentingan siapapun dan kubu manapun," jelas Ujang Komarudin, pengamat politik. (asp)