Membasmi Kebencian Agama di Media Sosial

Ilustrasi media sosial.
Sumber :
  • U-Report

Pelaporan konten ujaran kebencian pada halaman tersebut masih digabung dengan halaman pelaporan perilaku pengguna yang menyimpang. Ada beberapa opsi jenis pelaporan yaitu pelecehan, ancaman kekerasan spesifik yang mengancam fisik, informasi pribadi terumbar, cuitan spam, dan kebencian. Pilihkan opsi kebencian yang di dalam halaman tersebut meliputi kebencian berbasis ras, agama, gender, orientasi sampai disabilitas. 

img_title Demo 27 Agustus, Komdigi Minta Masyarakat Tak Sebar Ujaran Kebencian dan Provokasi di Media Sosial

Untuk melengkapi laporan ujaran kebencian itu, Twitter mensyaratkan pelapor menyebutkan aksi kebencian itu apakah menyasar pelapor secara langsung, atau menyasar orang lain, atau kelompok lain. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Twitter meminta melapor menyertakan URL cuitan yang dianggap menyampaikan ujaran kebencian pada kolom, serta tersedia deskripsi problem yang dihadapi atas dugaan konten ujaran kebencian tersebut. Sebagai pamungkas laporan, pelapor wajib menyertakan alamat email, akun Twitter serta tanda tangan digital pelapor dengan mengetikkan nama lengkap sang pelapor.

img_title Abu Janda Dilaporkan ke Bareskrim usai Diduga Sebut Sumbar Intoleran dan Barbar

Bertahun-tahun lalu

Dalam menangkal konten ujaran kebencian, sejatinya Twitter sudah melangkah lebih jauh. Pada 2016, Twitter memilih memblokir notifikasi cuitan yang mengandung kata spesifik seputar kebencian. Fitur pembasmi itu bernama ‘mute’. Fitur ini sejatinya telah hadir sejak lama, tetapi tiga tahun lalu Twitter memutuskan memperluas fungsinya, seiring makin meluapnya konten ujaran kebencian. 

img_title Anggota DPR Apresiasi Menkomdigi Sikat Konten yang Dinilai Sebarkan Ujaran Kebencian

Twitter mengatakan, dengan 'mute', pengguna bisa menonaktifkan kata kunci, frasa sampai seluruh percakapan yang mempromosikan kebencian. 

Sedangkan kala itu, platform digital lainnya seperti Google dan Facebook, memilih sistem yang memfilter dan menandai situs atau akun pendistribusi konten kebencian. Jika Google punya algoritma maka Facebook memanfaatkan kecerdasan buatan untuk penyaringan kontan ujaran kebencian.  

Twitter punya gebrakan baru dalam memburu akun penyebar kebencian. Pada Oktober tahun lalu, Twitter menjalankan proyek dashboard bernama Exploring Online Hate. Tool ini merupakan kolaborasi antara Twitter dengan New America Foundation and Anti Defamation League. 

Pada tahun lalu, proyek ini masih berupa percobaan dan dalam pengujian pada sampel 1000 akun Twitter, sistem ini menemukan 40 akun yang menunjukkan perilaku ujaran kebencian. 

Guyub dan silaturahmi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, Septiadji Eko Nugroho mengapresiasi langkah Twitter dalam memburu konten ujaran kebencian tersebut. Menurutnya langkah pembaruan aturan perilaku kebencian di Twitter bisa mendorong dunia media sosial makin damai dan adem.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut