Membasmi Kebencian Agama di Media Sosial
- U-Report
"Kebencian dengan menyerang latar belakang agama, terbukti mampu membuka jalan bagi kekerasan, seperti yang terjadi di banyak tempat, seperti pembunuhan jemaah masjid di Christchurch, Selandia Baru," ujarnya.
Dalam konteks ujaran kebencian di Indonesia, Septiadji menegaskan, konten tersebut tidak mendapatkan pembenaran dari sisi apa pun. Sebab ujaran kebencian bertentangan dengan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia.
"Dan kalau bicara konteks Indonesia, tentu konten ujaran kebencian untuk menyerang pemeluk agama tertentu bertentangan dengan berbagai norma yang berlaku, baik hukum dan agama," katanya.
Menurutnya solusi pemblokiran yang dilakukan Twitter merupakan langkah yang penting. Namun itu merupakan tindakan temporer saja, bukan solusi permanen.
Septiadji menilai ujaran kebencian akar masalahnya adalah ketidakrukunan di antara masyarakat, dan di era digital, polarisasi akibat isu politik semakin memperparah ketidakrukunan itu. "Solusi ideal adalah membangun kembali nilai keguyuban, rekonsiliasi, silaturahmi," ujarnya.
Terkait dengan manuver seseorang penebar ujaran kebencian yang mengarah kepada kekerasan, maka solusinya adalah penegakan hukum. Namun, menurutnya, harus dipastikan aktornya adalah aktor intelektual.
"Sedangkan masyarakat yang mungkin Karena ikut-ikutan, tentu solusi persuasif, atau pun hukuman sosial yang dikedepankan," kata dia.