Bayang-bayang Tsunami 20 Meter
- ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
"Biasanya (gempa) terjadi di daerah subduksi atau pertemuan lempeng-lempeng. Kalau di Selatan Jawa, ya, pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang (bergerak) tujuh centimeter per tahun," ujar Widjo.
Ancaman Megathrust ini bukan kali pertama menjadi perbincangan publik. Pada awal Maret 2018, sebuah informasi menyebar ke warga Jakarta. Ibu kota Indonesia ini terancam hancur akibat guncangan gempa besar yang diprediksi bisa mencapai magnitudo hingga 8,7.
Informasi itu mencuat setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar diskusi bertema, "Gempa Bumi Megathrust 8,7, Siapkah Jakarta?"
Mitigasi tepat
Menurut Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, apa yang disampaikan dalam diskusi tersebut adalah kajian dari tim ahli, yaitu Tim Pemutakhiran Peta Gempa Nasional.
Ia mengaku pada 2012 tim ini sebenarnya sudah mengemukakan bahwa zona megathrust di selatan Pulau Jawa mampu membangkitkan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 8,1.
Data tersebut juga diperkuat oleh sebuah disertasi doktor dari Rahma Hanifa (2014) di Nagoya University yang berjudul “Interplate Earthquake Potential off Western Java, Indonesia, Based on GPS Data". Disertasi itu menyebutkan, zona megathrust selatan Jawa Barat dan Banten berpotensi memicu gempa dengan magnitudo 8,7.
"Terakhir, hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional-PUSGEN (2017) dalam buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017” juga mengungkap bahwa zona Megathrust selatan Jawa Barat dan Banten memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum 8,8," ujar Daryono.
Ia pun mengimbau, karena megathrust tidak bisa diprediksi maka perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang tepat, menyiapkan langkah-langkah kongkrit yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa.
"Seandainya gempa benar-benar terjadi, khususnya dengan cara menyiapkan kesiapan masyarakat maupun inftrastrukturnya," katanya. Ia menambahkan, wilayah Indonesia yang terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif, maka Indonesia menjadi wilayah yang rawan gempa.
"Hal ini perlu dipahami bersama oleh seluruh masyarakat. Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang beredar," tutur dia.