Bayang-bayang Tsunami 20 Meter
- ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
'CLBK'
Selain itu, Indonesia memiliki sistem peringatan dini yang dapat membantu masyarakat sekitar pesisir untuk segera mengamankan diri ketika potensi gelombang tsunami muncul. “Kita punya sistem peringatan dini InaTEWS yang bekerja 24 jam,” klaim Daryono.
Tak hanya mengandalkan sistem peringatan dini, masyarakat juga bisa menjadikan gempa besar yang terjadi sebagai acuan awal untuk menjauh dari kawasan pesisir pantai.
Terakhir, untuk melancarkan proses mitigasi bencana, jika benar gempa besar dan tsunami terjadi, masyarakat diminta untuk mendukung dalam hal pembangunan tata ruang yang ada. "Penataan ruang harus dibenahi. Jangan membuat bangunan yang nempel-nempel di pantai, tapi agak menjauh dari pantai,” jelas Daryono.
Ia mengatakan, masih banyak bangunan yang berlokasi dekat dengan garis pantai. Karena itu, BMKG akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk siap menghadapi potensi gempa dan tsunami yang bisa terjadi kapan pun.
Pakar Geologi Surono mengatakan, ancaman dampak dari gempa besar pada Jakarta sebenarnya adalah hal lama. Ia menyebutnya sebagai CLBK alias Cerita Lama Berulang Kali. Pria yang akrab disapa Mbah Rono ini menyesalkan, ancaman soal gempa besar terus diulang, namun tak ada langkah konkret untuk mengantisipasinya.
Ia menuturkan, cerita tentang gempa besar landa Jakarta (dulu bernama Batavia) sudah dimulai pada 1699. Mbah Rono juga mengatakan, data gempa besar di Jakarta itu dilacak dari dokumen Belanda, salah satunya dari katalog gempa Arthur Wichman.
Ancaman megathrust
Katalog itu disusun Wichman untuk disertasinya di Royal Academy of Sciences in Amsterdam pada 1918, di mana dalam katalog itu disebutkan gempa amat kuat dirasakan di Batavia pada 5 Januari 1699 sekitar pukul 01.30 dinihari saat hujan lebat.
"Merobohkan banyak bangunan, menyebabkan longsor besar di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Banjir bandang berisi lumpur dan kayu di Sungai Ciliwung di Batavia, mengalir ke laut," kata Mbah Rono.
Selain itu, gempa kuat juga terjadi di Batavia pada 1780. Kekuatan gempa diperkirakan lebih dari 8 MMI atau Modified Mercalli Intensity. Gempa tersebut kemungkinan bersumber Sesar Baribis atau bisa juga dari interslab.