Papua Bergejolak gara-gara Hoax
- VIVAnews/Banjir Ambarita
VIVA – Tak seperti biasanya, Senin pagi situasi Kota Manokwari, Papua Barat ramai dan gaduh bahkan sampai rusuh. Banyak warga yang marah dan melampiaskannya dengan membakar ban, gerobak, sampai gedung DPRD Papua Barat. Massa begitu beringas, buntut peristiwa di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, beberapa hari sebelumnya.
Diketahui, kejadian di Surabaya berawal saat asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan digeruduk masyarakat dan sejumlah anggota ormas pada Jumat malam hingga Sabtu, 16-17 Agustus 2019.Â
Massa datang setelah tersebar kabar bahwa bendera Merah Putih di depan asrama mereka rusak dan dibuang di got. Polisi mengambil tindakan dengan membawa paksa 43 mahasiswa Papua ke Polrestabes Surabaya, Sabtu sore. Puluhan polisi mengepung asrama dengan menembakkan gas air mata.
Sementara di Malang, bentrokan terjadi ketika mahasiswa asal Papua menggelar aksi dengan warga di perempatan Jalan Basuki Rahmad, Kota Malang, Kamis, 15 Agustus 2019.Â
Saat di jalan, baik warga maupun mahasiswa saling lempar batu hingga anarki. Mereka semakin bertindak anarki, merusak beberapa fasilitas umum, melempari warga dengan batu dan memblokade jalan, hingga akhirnya dikendalikan polisi.
Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, mahasiswa dan masyarakat memang merasa marah dengan perlakuan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur. Kemarahan mahasiswa dan masyarakat di Papua memancing aksi pembakaran di kantor DPRD Papua Barat.
![]()
Lukas menyayangkan perlakuan tidak etis terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur beberapa waktu lalu. Apa yang terjadi di sana telah memancing reaksi yang cukup keras dari mahasiswa.
"Tidak boleh memancing situasi Papua, kami aman. Kalau mau perang di Nduga sana. jangan memancing situasi dan menimbulkan amarah. Rasisme sangat tidak pantas ada di bumi Pancasila," katanya.
Khofifah Minta Maaf
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku sudah menelepon Lukas Enembe begitu kerusuhan pecah di Manokwari, Papua Barat, pada Senin pagi, 19 Agustus 2019. Khofifah meminta maaf dan menyampaikan gesekan terjadi karena ulah personal, bukan mewakili warga Jawa Timur.Â
"Ketika kemudian terviralkan sesuatu yang menjadi sensitif dengan sebutan tertentu, kami tadi, saya, bertelepon dengan Pak Gubernur Lukas Enembe. Kami mohon maaf karena itu sama sekali bukan mewakili masyarakat Jawa Timur," kata Khofifah saat mendampingi Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian di RS Bhayangkara Surabaya.Â