Ancaman di Balik Kekeringan Panjang
- VIVA/Dani
Kemarau Panjang
Sejumlah daerah lain di luar Jakarta dan Banten, juga mengalami kekeringan. Hingga saat ini, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), musim kemarau yang tahun ini meliputi sejumlah daerah, di antaranya Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Provinsi NTT merupakan wilayah yang terdampak paling banyak akibat kekeringan. “Di NTT kekeringanannya cukup banyak, itu ada di 848 desa totalnya,” kata Plh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, di kantornya, Rabu 31 Juli 2019.
![]()
Agus menyatakan, musim kemarau tahun ini cenderung lebih panjang yakni hingga bulan September. Beberapa wilayah yang sudah terdampak dipastikan akan mengalami kekeringan hingga musim hujan tiba.
BMKG melansir ada 64,94 persen wilayah Indonesia yang mengalami curah hujan kategori rendah. Akibatnya, hampir 3,5 juta jiwa terdampak, khususnya 55 kabupaten dan kota di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, turut mengalami kekeringan. Kepala Klimatologi BMKG DIY Reni Kraningtyas menyampaikan, saat ini semua wilayah DIY telah memasuki musim kemarau. Awal musim kemarau di wilayah itu berlangsung sejak akhir April sampai pertengahan Mei 2019. Pada Agustus ini, semua wilayah DI Yogyakarta diprediksikan mengalami puncak musim kemarau.
Berdasarkan pantauan BMKG DIY, hingga awal Agustus 2019, beberapa wilayah DIY sudah mengalami kekeringan meteorologis level ekstrem. Tercatat ada daerah yang sudah lebih dari 60 hari tidak ada hujan. Bahkan ada yang lebih dari 130 hari tidak turun hujan, seperti Kabupaten Bantul.
"Dari semua wilayah di DI Yogyakarta, Kabupaten Gunungkidul menjadi wilayah yang terlanda paling ekstrem di DIY," kata Reni dalam penjelasan tertulis ACT yang dikutip VIVAnews, Kamis 22 Agustus 2018.
![]()
Sedikitnya 134 ribu jiwa di 14 Kecamatan di Gunungkidul dilanda kekeringan. Bahkan sudah sampai pada level kesulitan mendapatkan air bersih.
Selain karena kemarau, menurut Bagus Suryanto dari Cabang ACT DIY, kondisi kekeringan ekstrem di Gunungkidul, didukung geografis wilayah tersebut yang didominasi bebatuan karst (kapur). Akibatnya, air sulit tertahan di atas tanah.