Ancaman di Balik Kekeringan Panjang
- VIVA/Dani
![]()
Adapun di Kabupaten Tangerang, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat, tercatat 201 hektare sawah yang mengalami gagal panen akibat kemarau panjang ini. Sebelumnya, hanya 115 hektare sawah yang mengalami gagal panen. Hujan yang tidak kunjung turun menyebabkan meluasnya dampak kekeringan pada lahan persawahan.
"Total seluruh sawah yang kekeringan itu 1.560 hektare. Dengan kategori 660 hektare kekeringan ringan, 411 hektare kekeringan sedang, 288 hektare kekeringan berat dan 201 hektare gagal panen," kata Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Rabu, 21 Agustus 2019.
Meski gagal panen melanda, ketersediaan beras di Tangerang masih aman. Dengan luas sekitar 18 ribu hektare sawah dapat memproduksi beras sekitar 40 ribu ton dengan kebutuhan mencapai 22 ribu ton.
Sementara berdasarkan data Kementerian Pertanian, per Juli 2019 terdapat 112.526 hektare terkena puso di Indonesia akibat kekeringan. "Data per Juli yang terkena seluas 112.526 hektare. Ini lebih kecil dibanding periode sama 2018 seluas 117.616 hektare," ujar Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy, 8 Juli 2019.
Untuk meminimalisasi kegagalan panen akibat kekeringan, Kementan melakukan sejumlah cara. Di antaranya, melakukan optimalisasi pompanisasi di sejumlah wilayah terdampak yang masih dekat dengan sungai. Sedangkan untuk lahan kering yang berlokasi jauh dari sungai, petani dapat memanfaatkan sumber air permukaan.
Guna mengantisipasi dampak kekeringan terhadap stabilisasi pasokan dan harga pangan, khususnya beras, Kementan juga sudah menurunkan tim pada 1-4 Juli 2019 di beberapa daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Hasil pantauan, pasokan dan harga beras di pedagang grosir dan eceran di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Kota Yogyakarta, menunjukkan pasokan pangan khususnya beras masih aman, sampai 1-2 bulan ke depan dan harga masih stabil.