Esemka Jangan cuma Jualan Nasionalisme
- Fajar Sodiq/VIVAnews.
"Saya tidak ingin memaksa pada bapak, ibu dan saudara semuanya untuk membeli. Tapi kalau lihat produknya tadi, saya sudah membuka, sudah mencoba, sudah melihat, sudah tes, memang wajib kita beli barang ini," ucapnya.Â
![]()
Dia pun meyakini produksi Esemka dapat memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di Boyolali dan sekitarnya. Sebab, dalam produksi Esemka, banyak didukung dengan industri-industri menengah dan pekerja lokal.
Meskipun dia mengakui, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang disematkan dalam Esemka masih jauh dari kriteria mobil nasional. Artinya, masih banyak kandungan impor di dalamnya.
"Saya lihat dan saya senang, suplier-suplier dan komponen-komponen yang ada banyak sekali yang berasal dari dalam negeri, artinya local content-nya juga sudah baik. Meskipun pasti belum sampai ke angka 80 persen apalagi 100 persen," ungkapnya.Â
Terlepas dari hal tersebut, Jokowi menggarisbawahi, dengan peluncuran ini membuktikan produsen otomotif nasional sudah siap bersaing dengan produk impor di pasaran. Karena itu perlu dukungan dari masyarakat.Â
"Kalau beli barang dari produk lain ya kebangetan, apalagi impor. Tapi memang memiliki keunggulan yaitu ini brand dan prinsipal Indonesia," ujarnya.Â
Mirip mobil China
Setelah diluncurkan, Esemka Bima menjadi sorotan berbagai pihak. Banyak pula yang membandingkan pikap tersebut dengan merek Changan asal China karena kemiripannya.Â
Penelusuran VIVAnews, pikap dari Changan itu diberi nama Star Truck. Jika disandingkan dengan Esemka Bima, bahasa desain Star Truck memiliki kemiripan yang kental.Â
Selain itu, mesin yang disematkan di Bima dengan Star Truck juga ada kesamaan yaitu 1.243 cc. Bedanya, Bima memiliki dua varian mesin.
![]()
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, tidak heran dengan kemiripan tersebut. Sebab, basis komponen mobil yang digunakan Esemka diketahui masih banyak dari impor.Â
"Awal sejarahnya (Esemka) banyak impor dari China," ujar Yannes saat berbincang dengan VIVAnews, Jumat, 6 September 2019.Â
Selain itu, menurutnya, duplikasi produk dari China sangat dimungkinkan, karena kebijakan negara tersebut untuk produk yang dijualnya benar-benar berdasarkan bisnis. Artinya, siapa yang memberikan keuntungan besar bisa saja menyematkan merek lain dari mobil yang diproduksi China.Â