Indonesia Darurat Kabut Asap

Pengendara roda dua melintas di samping api yang membakar lahan gambut di Jalan Tegal Arum kawasan Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (13/9/2019). Kabut asap juga melanda Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Sebab, tanah gambut di lokasi kebakaran merupakan tanah berisi air, sehingga pemanfaatannya bisa dilakukan dengan membangun saluran sekunder agar air yang ada di dalam tanah bisa dialirkan ke lokasi kebakaran. Basuki menjelaskan, kondisi lahan gambut yang bentuknya serupa bahan 'sponge' penyerap air harus dimanfaatkan untuk kepentingan membantu pemadaman karhutla seperti ini.

img_title TK hingga SMP di Tanjungpinang Belajar dari Rumah Mulai 15-18 September Imbas Kabut Asap

Sebab, tanah gambut tidak bisa dimanfaatkan dalam konteks pemanfaatan lahan, karena dilarang mendirikan bangunan di atasnya akibat besarnya potensi amblas. "Makanya tidak boleh dipakai (selain untuk dimanfaatkan airnya). Kalau kering (lahan gambut) amblas karena kaya sponge,” ujar Basuki.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kabut asap di wilayah Kalimantan.

img_title Kebakaran Hebat di Pasar Asemka, Gudang Tekstil hingga Ruko Terdampak! Brimob Polda Metro Bantu Padamkan Api

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, Provinsi Riau menjadi wilayah yang paling banyak terkena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Menurut dia, Riau merupakan wilayah yang menjadi pusat pusaran angin di wilayah Sumatera. Hal itu dia ungkapkan setelah berkonsultasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kami diskusi dengan BMKG, Riau kenapa asapnya kumpul di Riau, karena Riau itu pusat pusaran angin. Jadi, dari Sumatera Selatan, Jambi, kemudian mau masuk ke Selat Malaka itu putaran anginnya pasti di Riau. Jadi, semua kumpul di Riau," kata Dedi Prasetyo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin, 16 September 2019.

img_title Potensi Kebakaran Tinggi, Sejumlah Gunung di Jatim Masuk Skala Prioritas OMC

Meski begitu, Dedi mengklaim terjadi penurunan titik api yang ada di Riau. Dari sebelumnya 600 titik lebih menjadi 350 hingga 400 titik. "Memang kebakarannya kecil-kecil namun jumlahnya yang memang cukup banyak itu," katanya.

Lapor ke PBB

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala Desk Politik Nasional Walhi, Khalisah Khalid  menambahkan, sepanjang 2019 hingga 7 September pekan lalu, tercatat ada sekitar 19.000 lebih titik api. Sementara data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 September 2019, ada sebanyak 2.862 titik api dengan total luas lahan yang terbakar 328.724 hektar.

Kondisi ini, disebut Khalisah makin diperparah karena kebakaran terjadi di lahan gambut, konsesi perkebunan monokultur skala besar (sawit dan hutan tanaman industri). Dalam sepekan terakhir, kondisi di wilayah Kalimantan dan sebagian Sumatera menunjukkan situasi darurat asap. Data dari KLHK yang terhubung dengan airvisual.com pagi ini menunjukkan berbahaya, dan bahkan semalam mencapai angka 2.000 US AQI.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut