Polemik Salam Lintas Agama
- ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Sedangkan Yahya Zainul Maarif, atau lebih akrab disapa Buya Yahya, dalam channel Youtube Al-Bahjah TV, yang dipublikasikan pada 9 April 2019, menjelaskan soal hukum mengucap salam lintas agama. Menurut Buya Yahya kalau bisa, lebih baik diubah dengan salam tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan agama. Atau mengucapkan salam kepada orang di luar Islam dengan kalimat sapaan, selamat pagi, selamat sore. Dan itu sah-sah saja. Dengan catatan, maknanya benar.Â
Katib Syuriah NU Jatim, Syafruddin Syarif, mengatakan, secara organisasi NU belum mengeluarkan pernyataan resmi soal itu. Namun, secara pribadi dia sependapat dengan imbauan MUI Jatim. Menurut Syafruddin, dalam Islam tidak ada kewajiban mengucapkan salam khas agama lain kendati pun dalam acara resmi.Â
"Tidak perlu yang Islam menggunakan salamnya Budha, Hindu dan sebagainya. Kalau itu sudah pas menurut saya lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku," katanya dihubungi wartawan pada Senin, 11 November 2019.
Toleransi, menurutnya, pada prinsipnya adalah saling menghargai antarsatu dengan yang lain. Bukan mencampuradukkan salam agama. "Toleransi itu tidak perlu masuk melaksanakan agama masing-masing," ujar Syafruddin.
Pendapat berbeda disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Najib Hamid. Dia mengatakan, salam lintas agama tidak masalah jika dimaksudkan hanya sebagai sapaan dalam sebuah kegiatan. Senyampang tidak mengandung tujuan menyerempet akidah, hal itu tak perlu dipersoalkan.
"Kalau sepanjang seremonial biasa ya enggak apa-apa. Memang enggak nyaman buat orang-orang tertentu. Tapi anggap itu sekedar salam menyapa saja. Tapi ndak ada hubungannya dengan akidah," tutur Najib.
Pejabat Tak Sepakat
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini alias Risma menyatakan tidak akan mengikuti imbauan Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur yang meminta agar pejabat Muslim tidak mengucapkan salam lintas agama dalam setiap acara resmi. Sebagai kepala daerah, Risma mengaku harus bersikap hangat kepada seluruh warganya yang berbeda-beda keyakinan.
"Kan enggak apa-apa menghormati orang lain. Saya sampaikan tidak bisa [mengikuti imbauan MUI Jatim soal salam lintas agama]. Aku kepala daerah wargaku reno-reno (beragam) agamanya," kata Risma di Balai Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 11 November 2019.