Ciputra, dari Pelari Jadi Raja Properti
- Istimewa
Badai Krisis Moneter Membuatnya Menangis Setiap Saat
Pesat dan mulusnya perkembangan bisnis Ciputra ternyata tak seindah yang tampak sekarang. Pada 1997, perusahaan yang ia bangun ikut terhantam badai krisis moneter.
Nilai dolar yang melambung tinggi dari rupiah membuat Ciputra tercekik. Utangnya hampir US$100 juta. Secara logika, jumlah itu nyaris tak mungkin terbayar.
Ia sadar kapal yang ia bawa nyaris karam. Tapi, kapal itu belum tenggelam. Namun, bukan itu yang membuat Ciputra menangis. Perusahaannya sekarat, dan ia harus memecat ribuan karyawannya.
“Di kamar tidur, di meja makan, bahkan saat saya mandi dengan air shower menyiram tubuh, saya berlinang air mata. Saya menangis tanpa saya sadari," kata Ciputra, seperti dikutip dari buku biografinya, The Passion of My Life.
Hidupnya menjadi penuh tekanan. Makan tak enak, tidur juga tak nyenyak, dan begitu banyak tekanan yang diterima oleh Pak Ci.Â
Tapi perlahan ia kembali bangkit. Menata satu demi satu bisnisnya yang hampir karam. Menyelesaikan utang, dan mengangkat kembali ribuan karyawan untuk membangun kembali.
Pak Ci berhasil. Ketika perekonomian negeri ini mulai stabil, perlahan bisnisnya kembali bangkit dan menggeliat. Lalu, kejayaan dan kekayaannya juga perlahan pulih.
Ketika berusia 75 tahun, ia mendirikan sekolah dan Universitas Ciputra. Sekolah ini tak sekadar menimba ilmu pada umumnya, tapi menitikberatkan pada perusahaan.
Tujuannya, lulusan sekolah ini siap menjadi pengusaha. Ia juga mendapat julukan sebagai Bapak Kewirausahaan Indonesia. Sebab, ia kerap menebarkan bibit wirausaha. Ribuan mahasiswa dan dosen ia bekali pelatihan wirausaha melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center.
Selain Universitas Ciputra, tiga universitas di Jakarta, yaitu Universitas Tarumanagara, Universitas Prasetya Mulya, dan Pembangunan Jaya juga menjadi binaannya. Di bidang seni, ia mendirikan Ciputra Art Gallery, Museum and Theatre.Â
Kepergian Ciputra menyentak perhatian publik. Sejumlah netizen yang mengenal Ciputra menyampaikan kesaksian. Seorang warganet bernama Sri Fajar mengenang Ciputra sebagai orang baik yang sederhana. Sebab, nyaris setiap Rapat Umum Pemegang Saham, Ciputra membawa bekal sendiri.Â