Perang ala Bambu Runcing Melawan Corona
VIVA – Pidato Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah menyiagakan ratusan rumah sakit untuk penanganan Corona seolah mengisyaratkan bahwa negeri ini sudah siap tempur melawan wabah yang menghantui dunia itu. Ditambah lagi klaim juru bicara pemerintah Achmad Yurianto pada 10 Maret 2020 tentang jumlah alat pelindung diri bagi para tenaga medis yang mencukupi. Semuanya seolah sudah beres.
Kenyataannya tidak begitu. Baru dalam sepekan terakhir terkuak bahwa sejumlah rumah sakit, terutama rumah sakit-rumah sakit rujukan, mulai kewalahan akibat kekurangan perlengkapan pendukung. Satu per satu rumah sakit mengeluhkan kekurangan, bahkan nyaris kehabisan, stok pakaian pelindung dari paparan virus bagi dokter maupun perawat.
Di beberapa rumah sakit di daerah, sejumlah petugas bahkan sampai menggunakan mantel hujan saking terbatasnya baju pelindung.
Kabar buruknya sudah datang. Tujuh dokter dilaporkan meninggal dunia saat bertugas menangani wabah Corona. Puluhan perawat juga dikabarkan tertular dan sekarang diisolasi.
Ikatan Dokter Indonesia mengonfirmasi kabar duka itu: enam dokter di antaranya meninggal akibat tertular saat merawat pasien-pasien Covid-19, seorang yang lain karena kelelahan setelah hampir tanpa istirahat mempersiapkan fasilitas bagi penanganan Corona di tempatnya bertugas di Bandung Barat.
Para tenaga medis belakangan dielu-elukan karena merekalah yang berada di garda terdepan dalam pertempuran antara hidup dan mati melawan Corona. Sayangnya mereka tak dibekali perlengkapan perang yang memadai. Situasinya ibarat perang hanya bersenjatakan bambu runcing melawan balatentara berdisiplin tinggi dengan peralatan artileri lengkap dan canggih.
Perlengkapan tempur
Pemerintah buru-buru mendatangkan 105 ribu alat pelindung diri bagi para tenaga medis dari China yang akan didistribusikan ke seluruh rumah sakit se-Indonesia—Jakarta kebagian paling banyak. Bantuan dari negeri asal wabah itu juga meliputi masker N-95, pemindai suhu infra merah, dan penutup kepala untuk operasi.
Pemerintah juga cepat-cepat meresmikan rumah sakit darurat yang disulap dari sebuah gedung Wisma Atlet di Jakarta sebagai antisipasi situasi terburuk jika jumlah kasus infeksi di Indonesia meledak tak terkendali. Rumah sakit darurat itu berkapasitas 2.400 kamar isolasi dan dapat menampung 24.000 pasien.