Pembatasan Sosial Berskala Besar yang Memble
VIVA – Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk pencegahan penularan wabah virus Corona di Jakarta sejak 10 April 2020 semula dianggap cukup efektif untuk mengurangi pergerakan masyarakat di Ibu Kota. Pada tiga hari pertama kebijakan itu diberlakukan, Jakarta memang lengang. Tetapi tidak di hari keempat.
Pergerakan masyarakat kembali terjadi, bahkan meningkat dibandingkan tiga hari sebelumnya, sebagaimana laporan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Sebagian besar, menurut polisi, pergerakan masyarakat dari daerah-daerah penyangga Jakarta yang menuju Ibu Kota.
Penurunan mobilitas masyarakat pada tiga hari pertama terutama karena Jumat pekan lalu adalah hari libur nasional dan kemudian dilanjutkan libur akhir pekan. Orang-orang yang bekerja di Jakarta kembali beraktivitas pada Senin, sehingga seperti nyaris tak ada perubahan signifikan karena kebijakan itu.
Kendaraan-kendaraan pribadi yang menuju Jakarta masih ramai. Kereta-kereta commuter line tetap penuh dengan penumpang.
Mustahil physical distancing
Aparat pemerintah di DKI Jakarta menganggap gejala itu masih wajar karena baru di awal-awal penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar. "Memang tidak bisa langsung turun,” kata Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya Mayor Jenderal TNI Eko Margiyono, “kita lihat beberapa hari ke depan”.
Aparat akan mengevaluasinya dari hari ke hari selama sepekan mendatang, dan diperkirakan mulai terlihat perubahan besarnya dalam tiga pekan mendatang. Namun, itu pun dengan syarat bahwa semua pihak mematuhi dan saling mengingatkan agar kebijakan PSBB berjalan efektif.
Sebab, diakui atau tidak, lonjakan pergerakan masyarakat pada hari keempat PSBB di Jakarta juga karena masih cukup banyak perusahaan yang tidak meliburkan para pegawainya atau menerapkan kebijakan bekerja di rumah.
PT Kereta Commuter Indonesia, operator layanan kereta commuter line di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, juga mengisyaratkan kebijakan PSBB masih memble alias belum efektif. Perusahaan itu memang telah mengurangi jam operasional kereta sehingga kapasitas penumpang menjadi terbatas.
Karena itu, jika masih banyak pekerja yang tidak bekerja di rumah, kereta-kereta commuter line tetap akan selalu penuh, sehingga mustahil menerapkan physical distancing atau menjaga jarak antarorang. Begitu pula dengan moda transportasi publik lainnya seperti bus, angkutan perkotaan, Transjakarta, MRT, LRT, dan lain-lain.