Peringatan dari Sinabung
- VIVAnews
VIVAnews -Bangun lagi, tidur lagi. Begitulah Sinabung. Tidur selama 400 tahun, bangun dini hari Minggu 29 Agustus, dan menutup letusan pada Senin pagi, pukul 6 lebih 30 menit. Pada letusan Senin 30 Agustus kemarin itu, muncul kubah lava baru di puncak gunung.
Kubah lava itu, kata Kepala Badan Geologi, R Syukar, adalah tanda bahwa tidak akan ada lagi letusan susulan."Secara ilmiah munculnya kubah lava seperti ini biasanya menjadi akhir dari kegiatan vulkanik gunung berapi,"katanya.Â
Para ahli gunung api, kerap menyebut gundukan baru di tengah kawah berapi itu sebagai "kubah penutup". Erupsi gunung berapi biasanya diawali dan diakhiri dengan munculnya kubah itu.
Namun Syukar mengingatkan bahwa munculnya kubah penutup itu bukan berarti marabahaya telah pergi. Status Sinabung, katanya, masih "Awas". Tim geologi segera melakukan pengamatan guna memastikan apakah Sinabung benar-benar sudah kembali pulas.
Hingga Senin tadi malam, suasana sejumlah desa di sekitar gunung Sinabung terlihat sepi. Tak ada lampu menyala dari rumah-rumah penduduk. Mereka sudah menyingkir ke 17 lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah.
Lokasi pengungsian itu terbanyak di Kota Brastagi dan Kaban Jahe. "Banyak pula yang mengungsi ke Medan atau ke rumah sanak famili," kata Suang Karo Karo, Kepala Kantor Perlindungan Masyarakat Kabupaten Karo. Total pengungsi sekitar 26 ribu orang.
Repotnya, sebagaimana lazimnya korban letusan gunung berapi dan bencana alam lain, para pengungsi itu kini dihinggapi rupa-rupa penyakit. Dari gangguan pernafasan, diare hingga jantung yang berdebar kencang. Semenjak Senin pagi kemarin hingga siang, "Sudah 200 pengungsi yang mengeluh sakit," kata seorang petugas kesehatan di lokasi pengungsian.
Beruntung pemerintah pusat sigap bertindak. Sudah mengucurkan uang Rp15 miliar. Uang sejumlah itu, kata Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, disiapkan untuk kebutuhan 10 hari. Dana itu akan digunakan untuk menanggulangi kebutuhan para pengungsi, aparat keamanan dan petugas kesehatan.
Dana diambil dari anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pokoknya yang penting, " Agar pengungsi bisa sedikit merasa nyaman, yang tentu saja keadaannya tidak sama dengan di rumah," kata Agung Laksono.