Gmail Diretas, AS-China di Ambang Cyber War

Gmail.
Sumber :
  • gmail blog

VIVAnews - Hubungan Amerika Serikat dan China kembali memanas pekan ini. Pemicu, terendusnya percobaan pencurian data akun Gmail milik pejabat senior Amerika Serikat serta ratusan tokoh penting lain, Kamis lalu. 

img_title Komisi III: Apakah Penyidik KPK Pernah Diancam DPR?

Aksi percobaan itu dicurigai dilakukan oleh para peretas China dan diarahkan untuk menjebak para petinggi negara dan militer AS, birokrat Asia, serta aktivis dan wartawan China. Google jelas-jelas menuding motif para peretas adalah untuk memantau informasi penting yang berseliweran lewat Gmail.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tentu saja, wanti-wanti dari Google itu langsung mendapat perhatian besar dari pemerintah AS. Bahkan Presiden Barack Obama memantau dan secara berkala mendapat update mengenai hal ini. "Tuduhan ini sangat serius," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton, seperti dikutip dari situs Wall Street Journal.

img_title Supervisi Kejaksaan, Ini Bantuan yang Diberikan KPK

Pasalnya, salah satu pejabat AS mengatakan, salah satu target peretas adalah orang yang bertugas di Gedung Putih. Pemerintahan Obama kembali mengatakan bahwa tidak ada informasi negara yang telah bocor dari upaya penyerangan itu. 

Namun, anggota kongres dan banyak pakar keamanan komputer mengatakan bahwa di masa lalu, banyak para pejabat yang terkadang menggunakan email pribadi mereka (bukan email resmi) untuk urusan bisnis, walaupun peraturan tidak mengijinkan hal itu.

img_title Gempa Letusan Gunung Bromo Disertai Suara Dentuman

Bahkan, kepada CBS News, seorang pakar keamanan mengatakan bahwa pegawai pemerintahan AS yang bekerja dari rumah, seringkali menggunakan Gmail untuk urusan pekerjaan. Pegawai Gedung Putih, misalnya, sering berkomunikasi tentang kapan dan di mana Presiden Obama melakukan perjalanan dinas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Informasi yang bisa dijumpai di sistem tak aman itu, tentu saja bisa berkembang dan menjalar kepada isu keamanan yang serius. "Setiap orang yang bekerja di pemerintahan, seharusnya tidak menggunakan akun email pribadi semacam Gmail untuk membahas informasi rahasia atau informasi aktivitas pemerintah," kata Jenderal (Purn) Harry Raduege.

Percobaan pencurian informasi akun Gmail itu sendiri dilakukan dengan metode phishing yang cukup cerdik. Peretas mengirim email palsu kepada para target, berisi subyek email tentang pernyataan gabungan terkini dari pemerintah AS dan China. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut