Tren e-Commerce, Lagi-Lagi Indonesia Hanya Pasar

Ilustrasi E-commerce
Sumber :
  • iStock

“Kalau diteliti lebih dalam lagi, pengguna e-commerce itu hanya 6 persen dari total pengguna smartphone di Indonesia. Namun saya yakin ini akan terus meningkat seiring dengan maraknya penggunaan smartphone.  Ini merupakan tantangan sekaligus kesempatan bagi pemain seperti kami,” ujar Indrasto Budisantoso, CEO Groupon Indonesia.

img_title Layar 6,3 Inci atau 6,9 Inci? Hal yang Perlu Dipikirkan Sebelum Memilih iPhone 18 Pro atau Pro Max

Jika dirunut lagi, dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, pengguna smartphone hanya 24 persen. Dari angka pengguna smartphone tersebut, hanya 6 persen yang teridentifikasi sebagai pengguna e-commerce. Bayangkan, berapa persen pasar yang belum tergarap, berapa persen potensi bisnis dan transaksi yang terjalin jika 50 persen penduduk teridentifikasi sebagai pengguna mobile aktif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menanggapi rencana aturan dan pemberlakukan pajak, pemain lama di bisnis e-commerce, Bhinneka.com mengatakan akan menyerahkan semua sikap kepada asosiasi yang menaungi (iDEA). Menurut Muhamad Arif, Feature and Marketing Campaign Manager Bhinneka.com, jikapun pajak harus dikenakan maka besarannya harus bisa di bawah pajak offline karena ekosistem keduanya sangat berbeda.

img_title Poco F9 vs Huawei Mate 90, Duel HP dengan Pendekatan Berbeda untuk Memikat Pengguna

Kartu Sakti Jokowi untuk e-Commerce

Namun ternyata tidak semudah itu membesarkan sebuah e-commerce. Menurut Indrasto, setidaknya ada dua hal yang membuat perkembangan e-commerce Indonesia terhalang. Pertama adalah kurangnya kepercayaan pelanggan dengan situs dan barang yang ‘tidak berwujud’. Selain itu adalah masalah metode pembayaran.

img_title IHSG di Balik Layar Digital: Mengenal Peran Data, Algoritma, dan Teknologi dalam Pasar Saham Tanah Air

Menurut Indrasto, dalam survei yang dilakukan Groupon, 34,6 persen responden masih takut dengan kejahatan penipuan yang sering menghantui e-commerce. Sedangkan 21,5 persen lainnya menganggap ‘membeli kucing dalam karung’ karena barang yang dijual tidak bisa disentuh dan dilihat. Selain itu, pembayaran juga menjadi kekhawatiran tersendiri  karena pemilik akun bank di Indonesia hanya 20 persen dari total populasi. Apalagi jumlah pemilik kartu kredit yang hanya 4,5 persen.

Direktur Mountain SEA Ventures, Andy Zain mengatakan jika sistem pembayaran online di Indonesia belum mantap. Kebanyakan mereka masih menggunakan sistem konvensional, transfer lewat ATM. Padahal di negara lain para pembeli online telah menggunakan kartu kredit. Dia meyakini jika pembayaran menjalankan sistem yang mudah dan fleksibel, bakal mendorong ekosistem start up bisa makin melesat. Bahkan menurutnya, dengan adanya tiga kartu sakti Jokowi yang mengadopsi mobile payment, bisa dijadikan dasar untuk menguatkan sistem tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut