Menguji Taji Pidato Jokowi
Jumat, 24 April 2015 - 07:26 WIB
Sumber :
- REUTERS/Darren Whiteside
Wajar bila dalam pidatonya, Presiden mendesak adanya reformasi arsitektur keuangan dunia. Dan, menyerukan agar negara di Asia-Afrika tidak lagi hanya bergantung pada tiga institusi keuangan yang puluhan tahun ini "mendikte" ekonomi negara-negara berkembang.
Tak ikut poros
Pidato Presiden menjadi lebih menarik. Sebab, pada saat yang sama, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, China, te‌lah menginisiasi terbentuknya lembaga keuangan baru, yakni Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Bank yang telah mengantongi komitmen dari 57 negara (termasuk sekutu AS) itu, siap didirikan pada akhir tahun ini. Bank tersebut akan digunakan untuk memberikan pendanaan bagi proyek infrastruktur, khususnya di kawasan Asia.
Namun, jangankan secara lugas menyebut, sekadar menyinggung AIIB pun tidak. Lagi-lagi, Presiden memilih kalimat lembut sepeti, "untuk membentuk tatanan ekonomi baru" dalam pidatonya.
Padahal, Indonesia juga telah turut serta menandatangani komitmen pendirian AIIB. Dalam konteks pidato tersebut, tak salah bila muncul dugaan Indonesia akan bergabung ke poros China.
"Jangan memaknai yang seperti itu, Indonesia tidak poros-porosan. Politik luar negeri Indonesia bebas aktif. Kalaupun masuk menjadi founding member AIIB, jangan dianggap sebagai poros-porosan, karena Italia juga masuk," kata Direktur Jenderal Asia-Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Yuri Thamrin.
Yuri mengungkapkan, AIIB murni terkait besarnya kebutuhan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, kebutuhan dana untuk membangun infrastruktur Asia-Pasifik mencapai US$8,3 triliun.
"Kebutuhan dana infrastruktur itu besar sekali. Pasti tidak bisa dipenuhi oleh bank-bank yang ada saat ini," ungkapnya.
Sekilas AIIB
Seperti yang sudah sering kita bahas, institusi keuangan AIIB merupakan bakal kekuatan baru ekonomi dunia. Negara-negara dari lima benua (Asia, Oseania, Amerika Latin, Eropa dan Afrika) telah menyatakan diri untuk bergabung sebagai founding member.
Rusia, Israel, Swedia, Afrika Selatan, Portugal, Polandia, Azerbaijan, dan Islandia tercatat menjadi negara pendiri. Menurut data Kementerian Keuangan China, ada 57 negara yang bergabung.
Yang menarik, meski Amerika Serikat terang-terangan menentang AIIB, para sekutunya seperti Inggris, Jerman, Perancis justru lebih dulu menyatakan komitmen dukungan. Jepang juga merupakan negara di Asia yang enggan bergabung ke AIIB.
Halaman Selanjutnya