Runtuhnya Ekonomi Negara Para Dewa
Selasa, 30 Juni 2015 - 04:55 WIB
Sumber :
- REUTERS/Marko Djurica
Jadi pertimbangan Federal Reserve
Sementara itu, gejolak ekonomi yang terjadi di Yunani ini, dinilai tidak hanya bisa memberikan pengaruh negatif terhadap ekonomi global, ada hal positif yang kemungkinan akan terjadi.
Krisis Yunani yang menyebabkan penguatan dolar AS diperkirakan menjadi salah satu pertimbangan Bank Sentral AS, The Fed urung menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini.Â
"Karena, ada kondisi terbaru ini bisa menjadi pertimbangan The Fed," ujar David Sumual.Â
Masuknya arus modal asing secara besar-besaran, karena dolar menguat dan kenaikan suku bunga di negara paman sam tersebut, justru bisa berdampak negatif. Ekonomi AS bisa kepanasan (overheat).Â
"Kalau ini berlanjut bisa memperkuat dolar dan menunda rencana The Fed (menaikkan suku bunganya)," tegasnya.Â
Berbeda dengan David, Mirza berpendapat, sentimen Yunani justru tidak kuat untuk menggoyang The Fed mundur dari jadwalnya menaikkan suku bunga. Sebab, turunnya ekonomi China, raksasa dunia lainnya, merupakan momentum terbaik untuk merealisasikan kebijakan yang tertunda hampir tiga tahun tersebut.Â
Hal tersebut, yang menjadi perhatian otoritas moneter Indonesia saat ini. "Kalau ditanya khawatir, iya. Lihat pasar China dalam tiga minggu terakhir sudah jatuh 25 persen. Ini yang kita waspadai," tegasnya.Â
Pemerintah santaiÂ
Presiden AS, Barack Obama menelepon Kanselir Jerman, Angela Merkel, Minggu 28 Juni 2015, untuk mendesak Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) menemukan sebuah rencana baru untuk mempertahankan Yunani di zona euro.Â
Dilansir dari Reuters, Gedung Putih menyatakan Obama dan Merkel sepakat bahwa sangat penting untuk membuat setiap upaya agar kembali pada jalur yang memungkinkan Yunani untuk melanjutkan pertumbuhan dan reformasi di zona Eropa.Â
"Para pemimpin menegaskan bahwa tim ekonomi mereka memonitor dengan hati-hati situasi (Yunani) dan akan terus berhubungan dekat," demikian pernyataan Gedung Putih.Â
Di Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, saat ditemui di kantornya menyakini Uni Eropa tidak akan membiarkan krisis Yunani terus berlanjut. Karena, menurutnya, banyak kepentingan negara-negara Uni Eropa yang dipertaruhkan akibat dari krisis tersebut.Â
"Karena, berbagai analisis juga mengatakan terlalu mahal buat Yunani keluar dari Uni Eropa dan terlalu mahal juga untuk Uni Eropa jika Yunani keluar. Jadi, akal sehat akan berupaya bagaimana bisa menyelamatkan supaya Yunani tetap di Uni Eropa," jelasnya.
Halaman Selanjutnya