Halaman Selanjutnya
"Kita akan melihat beberapa pengenalan produk baru yang menarik dalam dunia VR pada tahun ini, tapi tak ada yang saya lihat itu akan tumbuh melebihi segmen khusus terutama game," kata Bob O'Donnell, Pendiri dan Kepala Analis Technalysis Reserach dikutip dari Recode, Selasa 5 Januari 2015. Peluncuran VR besutan Oculus Rift, untuk kalangan konsumen pada awal tahun ini diprediksikan Juniper Reserach sebagai tahun penentuan VR. Sebab produk VR Facebook ini, pengguna untuk menjelajahi pengalaman VR tidak memerlukan sebuah ponsel pintar. Hal ini berbeda dengan teknologi VR yang besutan Alphabet Inc., induk Google dengan CardBoard dan Gear VR keluaran Samsung Electronics. Selain itu, produk yang terjun dalam segmen VR adalah HTC Corp dengan Vive VR yang kemungkinan bakal hadir belakangan pada penghujung 2016. Jika VR diprediksikan akan mulai mencapai babak baru pada tingkat konsumer, maka AR diprediksi akan makin membuktikan gaungnya dalam lingkungan kerja. Salah satu pemain serius dalam AR yaitu Microsoft yang sudah memperkenalkan perangkat Microsoft HoloLens meskipun belum merilisnya. O'Donnell memprediksikan gaung HoloLens tak begitu mengguncang pada tahun ini, dikarenakan faktor tingginya harga produk tersebut. Tapi dalam jangka panjang, kata O'Donnell, peran perangkat AR akan makin jelas dibutuhkan dalam industri kreatif. AR bakal meledak sebab teknologi ini menawarkan interaksi baru dan menarik terhadap data digital. Drone makin mengudaraTak terbantahkan, tahun lalu pesawat tak berawak (drone) membuktikan sebagai teknologi yang terus berkembang dan makin populer. 'Demam' pesawat tanpa awak, atau drone kian berlanjut. Setelah banyak orang mulai menggunakan drone untuk mendukung kebutuhan fotografi dan rekaman dengan sudut pandang berbeda, kini sudah mulai marak hobi baru dengan drone.Beberapa komunitas drone di belahan dunia iseng dan asyik menggelar kompetisi dalam bentuk balapan drone. Fenomena itu bukti bagaimana drone berkembang dan dicintai pemiliknya.Menurut Marketwatch, diperkirakan perkembangan drone makin meluas dan canggih, misalnya drone yang memiliki teknologi pelacakan, sensor tambahan yang membuat pesawat tak berawak itu makin akurat 'membaca' lingkungan. Drone juga kian masuk ke rumahan, digunakan oleh kalangan konsumer. Badan Penerbangan Federal AS (FAA) akhir tahun lalu memprediksikan lebih dari satu juta drone kemungkinan terjual hanya dalam masa liburan 2015. "Pasar drone kian meledak," kata Jordan Edelson, CEO Appetizer Mobile, pengembang aplikasi mobile. Perkembangan drone juga memiliki dampak lain. Industri penerbangan dilaporkan mulai mengkhawatirkan ada dampak keamanan dari drone tersebut.Dilaporkan my9nj.com, FAA telah memunculkan gugus tugas khusus untuk drone. Tim ini ditugaskan untuk membuat aturan baru yang mensyaratkan pengguna drone untuk mendaftarkan perangkat mereka ke FAA. Di Kanada, juga melakukan hal yang sama seperti FAA dalam merespons banyaknya tren drone.Pada 2016, FAA mengharapkan akan bisa merilis aturan final untuk penerbangan drone komersial. FAA juga menyutujui penerbangan riset drone untuk sejumlah layanan pelanggan misalnya drone Prime Air milik Amazon, yang akan mengirimkan paket barang ke pelanggan. FAA juga memprediksikan ke depan drone akan dipakai untuk penggunaan kesenangan, misalnya drone online dalam beberapa tahun ke depan. Kecerdasan buatanTeknologi ini diperkirakan akan terus berkembang. Bentuk kecerdasan buatan (AI) sebenarnya sudah jamak hadir dalam dunia digital. AI bekerja dibalik mesin pencarian Google atau perintah suara asisten virtual milik iOS (Siri), Cortana pada Windows dan lainnya. AI akan terus tergabung dalam produk teknologi, layanan dan peranti lunak pada 2016. Dan tak kalah penting yaitu keterlibatan AI dalam tubuh robot. Wajah AI yang mewujud dalam robot sudah bisa dilihat dari penyelenggaraan CES 2016. Pada pameran tersebut, menurut Marketwatch ada 23 peserta pameran yang mengambil tempat 10 ribu kaki persegi. Kapasitas itu meningkat 71 persen dibanding penyelanggaraan CES tahun lalu. Kemampuan robot ke depan diharapkan makin canggih dan meluas, mulai dari robot pembersih rumah, pembantu ritel sampai robot pelayan toko seperti robot Pepper yang sudah diterjunkan di Jepang pada awal tahun ini. Pada 2016 ini juga akan menjadi penentuan bagi penjualan robot Buddy buatan perusahaan Prancis, Blue Frog Robotics. Robot yang disebut sebagai robot sosial itu diklaim mampu berinteraksi dengan sejumlah anggota keluarga majikannya. Edelson menduga dalam beberapa tahun ke depan, akan muncul robot yang mulai menjalankan peran personal seperti robot penjaga anak-anak maupun robot penjaga. "Orang akan mulai secara pelan menerima robot begitu mereka melihat kegunaannya," kata Edelson.Bidang AI ini juga membetot perhatian Chief Executive Officer (CEO) Facebook Mark Zuckerberg. Menatap 2016, bos Facebook itu berhasrat menghadirkan AI di rumahnya. Bahkan ia punya mimpi bisa menghadiran AI dalam konsep yang mirip dengan robot Jarvis dalam film Iron Man. "Tantangan pribadi saya untuk 2016 adalah membangun AI‎ sederhana untuk menjalankan rumah saya dan membantu dengan pekerjaan saya. Anda dapat menganggap itu jenis AI seperti Jarvis di Iron Man," tulis Zuckerberg di akun Facebooknya, dalam resolusinya untuk tahun ini.Zuckerberg mengatakan, sebagaimana diwartakan Business Insider, Senin 4 Januari 2016, untuk merealisasikan Jarvis, ia akan mulai dengan memahami beberapa teknologi dasar pada rumah pintar. Kemudian, setelah itu, ia akan mengaplikasikannya di rumahnya sendiri."Lalu, saya akan mulai mengajarkan suara saya untuk mengendalikan segala sesuatu di rumah kami, baik itu musik, lampu, suhu, dan lainnya," tuturnya."Saya akan mengajarkannya untuk membiarkan teman-teman dengan raut wajah mereka, ketika membunyikan bel pintu. Saya akan mengajarkan untuk membiarkan saya tahu, jika ada sesuatu terjadi di kamar Max (anaknya), saya perlu memeriksanya saat tidak bersamanya," kata dia.Resolusi yang dilakukan Zuckerberg ini selalu ia lakukan setiap akan mengawali tahun baru. Tahun lalu, ia menantang dirinya untuk belajar dan tumbuh di luar pekerjaannya, seperti membaca dua buku dalam sebulan, belajar Bahasa Mandarin, dan bertemu orang baru setiap harinya. Pintu awal mobil otonomTahun ini juga akan menjadi pintu agar mobil otonom bisa leluasa mengaspal di jalanan. Pada Desember lalu, laporan Marketwatch menunjukkan Google dan Ford sepakat untuk menciptakan perusahaan patungan yang akan mengembangkan kendaraan tanpa sopir yang menggunakan teknologi Google. Soal regulasi, juga sudah mulai mendapatkan lampu hijau. Regulator California, AS sudah mengungkapkan pengajuan yang akan mensyaratkan pengemudi berlisensi untuk mengoperasikan kendaraan otonom. "Berkendara tanpa sopir sudah kampir siap tampil," kata Edelson. Dia mengakui masih butuh waktu untuk menyaksikan mobil otonom sepenuhnya, tapi Edelson meyakini 2016 adalah tahapan penting. Sebab pada tahun ini, merupakan tahap kemitraan antara perusahaan teknologi dan perusahaan otomotif dalam mengembangkan kendaraan yang otonom sepenuhnya. Perangkat sandang (wearable)Tahun bisa dikatakan sebagai tahun awal perangkat sandang. Meski kategori perangkat ini terhitung masih 'bayi', tapi sudah mendapatkan perhatian bagi penikmat teknologi. Tapi sayangnya perangkat ini belum memberikan dampak yang besar bagi pasar dan pengguna. Bob O'Donnell, Pendiri dan Kepala Analis Technalysis Reserach, dalam tulisannya di laman Recode menuliskan, salah satu tantangan besar perangkat sandang untuk membumi yaitu harus bisa membuktikan perangkat itu layak untuk semua pengguna secara umum. O'Donnell mengatakan sebagaian besar perangkat sandang lebih terlihat sebagai aksesori untuk penggemar kebugaran, bukan sebagai perangkat pokok untuk konsumer secara umum. Selain itu, catatan O'Donnell, perangkat sandang masih dipertanyakan akurasinya serta pada beberapa versi awal jenis perangkat terbatas kemampuannya, misalnya kemampuan sensornya. "Untuk mencapai khalayak yang lebih luas, perangkat sandang harus punya kesamaan nilai yang lebih menarik dan mempertahankan ke lebih banyak orang, alih-alih pasar konsumen saja," tulis dia. Meski demikian, O'Donnell memberi kredit kemampuan perangkat sandang untuk bisa memudahkan penggunanya dalam lingkungan kerja, misalnya dengan perangkat itu pengguna tak perlu mengeluarkan kartu keamanan gedung, otentifikasi biometerik, bisa membuka perangkat kerja dan lainnya. Dengan demikian, kata dia, perangkat sandang bisa menekan pengeluaran perangkat IT lainnya.