'Iron Man' dari Bali, Dipuji dan Diragukan
- VIVA.co.id/Bobby Andalan
Berbeda dengan Syamsiar. Pakar bedah syaraf dari Brain Spine Center dr Muhammad Sofyanto, justru meyakini bahwa apa yang telah dikolaborasikan Tawan lewat Electroencephalography atau EEG dengan rangakain besi bukanlah ilusi.
Sebab, menurut Sofyanto, praktik itu sudah sering digunakan dalam dunia kedokteran. “Kami biasa menggunakan untuk membantu pasien yang lumpuh, biasanya memang ada alat yang ditempelkan di bagian kepala, dan fungsinya membaca perintah dari otak,” jelas Sofyanto, Jumat 22 Januari 2016.
Namun, penggunaan alat itu tetap harus diperhatikan. Sebab apa yang dilakukan Tawan lewat mengaliri listrik ke kepalanya, bukan tidak mungkin akan memiliki efek samping.
Apalagi Tawan tak mengetahui persis berapa kadar listrik yang bisa sesuai dengan kebutuhannya untuk menyampaikan pesan kepada rangkaian besi yang melilit ditangannya. "Alat itu belumn tentu cocok dengan penerimaan tubuh orang lain," ujar Sofyanto.
Sebab itu, ia berharap keahlian Tawan patut dibimbing dan diperhatikan. Di tengah keterbatasannya, ia mampu membuat sesuatu yang bisa membantunya berdiri sendiri.
"Dalam bahasa mediknya itu lateral thinking, atau orang yang selalu memecahkan masalah dengan memaksimalkan kinerja otaknya, padahal dia belum menerima ilmu secara akademis. Makanya, pemerintah harus memberikan pendampingan, minimal bisa dimasukkan ke Udayana," kata Sofyanto.
Melawan Keterbatasan
Terlepas dari persilangan pendapat itu. Karya Tawan memang dibilang mengejutkan. Pria miskin yang hanya mampu menamatkan diri hingga sekolah menengah atas ini benar-benar menjadi perhatian.
Tawan telah memberi pelajaran penting pada semua orang. Bahwa keterbatasan itu bukan akhir dari segalanya. Disabilitas bukan berarti harus mengeluh dan tentunya kemiskinan bukan hal yang membatasi untuk berkreativitas.
"Berusaha bertahan hidup jangan bergantung pada orang lain," kata Tawan.![]()
I Wayan Sumardana alias Tawan memperbaiki alat sepeda motor pelanggan dengan lengan robot buatannya di bengkel kerjanya di Desa Nyuh Tebel, Karangasem, Bali, Kamis (21/1/2016)
Ya, semangat keterbatasan Tawan terasa mengharukan. Bapak tiga anak yang sehari-hari tidur beralas kardus ini, membuat Karangasem tempat tinggalnya populer. Gubuk reotnya pun sudah tak terhitung beberapa kali disambangi sejumlah media.