Menanti Gebrakan Jenderal Tito Buru Teroris

Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian.
Sumber :
  • Bayu Januar/VIVA.co.id

[Baca juga: ]

img_title BNPT Akan Gelar Operasi Simpatik di Poso

Tantangan Tito

Kompetensi dan pengalaman Tito Karnavian dalam memimpin penanggulangan terorisme di Tanah Air bukan tanpa tantangan. Ketua Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo berharap Irjen Tito mampu membuktikan kepiawaiannya dalam menangani masalah terorisme dengan mengedepankan HAM.

Menurut Bambang, Tito telah membuktikan 'trade mark' dia di bidang antiteror ketika menangani kasus teror bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Serangan bom di jantung Ibu Kota itu dengan cukup singkat ditangani. Maka, jabatan kepala BNPT yang dijabatnya sangatlah tepat.

Namun, sebagai Kepala BNPT, Tito ditantang untuk terus menjaga profesionalisme aparat di lapangan. Tito kata Bambang, diharapkan dapat mendisiplinkan anggota Densus 88 Polri agar selalu profesional dalam penegakan hukum terhadap pelaku teror tanpa melanggar HAM.
 
"Nah, kita berharap Tito mampu membereskan, merapikan, dan mendisiplinkan anggota Densus Antiteror. Ini untuk menghindari pelanggaran HAM yang terus menerus diduga dilakukan dalam proses penyergapan, penangkapan para terduga teroris," kata Bambang.
 
Bambang mengungkapkan, Komisi Hukum DPR banyak mendapat pengaduan terkait pelanggaran HAM saat penanganan para terduga teroris. Dan, ini menjadi catatan buruk bagi pemberantasan terorisme. "Kita setuju terorisme harus diberantas, tekan, dan dicegah, namun tetap harus memperhatikan nilai-nilai HAM dan kepatutan," katanya.

Catatan Komisi III DPR RI soal kekerasan yang dilakukan Densus 88 terhadap terduga teroris bukan isapan jempol. Belum lama ini, terduga teroris di Klaten, Jawa Tengah, Siyono tewas setelah dijemput Densus 88.

Polisi mengklaim, Siyono tewas karena kelelahan setelah berkelahi dengan Densus 88 bersenjata. Namun belakangan, Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri, Brigadir Jenderal Polisi Arthur Tampi, menyebut Siyono tewas akibat kekerasan di bagian kepala belakang.

Pengamat teroris Universitas Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta M Zaki Mubarak menyebut, 90 persen terduga teroris yang telah ditangkap oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menerima perlakuan kekerasan. "Salah satunya adalah dengan disetrum listrik, dengan dalih untuk menggali informasi," kata Zaki.

Tak pelak, perlakuan itu bukan tidak mungkin membuat proses deradikalisasi yang dilakukan BNPT akan terganggu.

Selain soal HAM, BNPT di bawah Tito juga diharapkan pemberantasan terorisme di Indonesia berjalan profesional dan proporsional. Tito dihadapkan pada jaringan teroris yang terus berevolusi, salah satunya pada jaringan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang menunjukkan eksistensinya di Tanah Air.

"Kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan bersikap tegas dalam menindak serta membersihkan kantong-kantong radikalisme yang berpotensi menjadi kelompok-kelompok terorisme di Indonesia," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane melalui keterangan tertulisnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut