Belajar dari Mobil Nasional Proton
- www.corporate.proton.com
Berkat usaha Perdana Menteri Malaysia saat itu, Mahathir Mohamad, yang juga pendiri Proton, perusahaan akhirnya bisa bekerjasama dengan Mitsubishi. Mobil Mitsubishi Lancer generasi kedua dirakit di Malaysia dan diubah namanya (rebranding) menjadi Proton Saga.
Dengan harga jual yang masuk akal, Proton tidak perlu waktu lama untuk menjadi populer. Bahkan pada era 1990-an, mereka sudah mulai meluncurkan mobil dengan desain bodi rancangan sendiri.
Tidak hanya itu, dilansir dari laman resmi Proton, Rabu 30 Maret 2016, mereka juga memiliki uang yang cukup untuk membeli 80 persen saham Lotus, perusahaan pembuat mobil sport asal Inggris, Lotus.
Proton juga membangun pabrik baru senilai 1,8 miliar Ringgit, atau setara dengan Rp6 triliun, di wilayah Perak, Malaysia. Namun, akibat krisis ekonomi yang melanda Asia pada 1997, proyek pembangunannya harus ditunda, dan baru dimulai empat tahun kemudian.
Hampir semua model baru yang diluncurkan Proton laris di pasaran. Bahkan, multi purpose vehicle (MPV) Proton Exora bisa bersaing dengan kompetitor asal Jepang. Tidak hanya merancang bodi, Proton juga berhasil mengembangkan mesin, yang diberi nama Cam-pro.
Selain untuk konsumsi warga Malaysia, Proton juga mengekspor unit ke beberapa negara yang ada di Asia, Eropa dan Australia, seperti Inggris, Selandia Baru, Singapura, dan Indonesia.
Namun, hanya negara yang menganut aturan setir kanan saja yang bisa dimasuki, karena Proton tidak membuat mobil dengan kemudi di sisi kiri.
Kesuksesan Proton ternyata tidak berlangsung lama. Setelah Mahathir lengser dari jabatannya sebagai perdana menteri pada 2003, Proton masih tetap berjaya.
Sayangnya, ketika Najib Razak terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 2009, penjualan Proton mulai menurun.
Menurut wawancara Paultan dengan Mahathir beberapa waktu lalu, penyebab utama merosotnya penjualan Proton hingga 40 persen adalah kebijakan Razak yang memberi jalan investor otomotif asing berbisnis di negara tersebut.
Mahathir mengatakan, saat ini pemerintah Malaysia memberi kebebasan pada negara-negara lain untuk mengekspor produk otomotif ke Malaysia. "Sayangnya, negara-negara tersebut tidak mau menerima produk buatan Proton," ujarnya.
Dengan masuknya berbagai jenis kendaraan buatan Korea, Jepang, dan China, ia khawatir, hal ini akan membuat konsumen Malaysia melupakan merek Proton. Apalagi, saat ini beredar sentimen negatif mengenai kualitas Proton yang lebih rendah, jika dibandingkan dengan merek-merek impor.