Desa Wisata, Cara Terakhir Dongkrak Wisatawan?

Sejumlah wisatawan asing melihat pemandangan rumah tradisional di Desa Penglipuran, Bangli, Bali.
Sumber :
  • ANTARA/Nyoman Budhiana

Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Oneng Setya Harini menilai, masyarakat perlu menjadi tuan rumah bagi keberlangsungan pariwisata di Tanah Air.

"Bagaimana masyarakat bisa menciptakan kondisi yang kondusif dalam destinasi pariwisata agar pembangunan pariwisata bisa berjalan baik, sehingga masyarakat bisa mendapatkan manfaat ekonomi," katanya.

Namun, setelah ada Undang-undang (UU) Desa, fokus pengembangan desa wisata dilakukan desa itu sendiri. Pemerintah mendorong pengelola desa wisata dalam salah satu program anggaran dari dana desa, atau melalui anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes). Meski demikian, Kemenpar tetap melakukan pendampingan dengan peningkatan kapasitas dan memberikan bimbingan teknis kepada masyarakat desa.

img_title Kini, Family Gathering Mulai Dilirik Wisatawan

Beragam Desa Wisata

Salah satu provinsi yang sukses membangun desa wisata adalah Pulau Dewata, Bali. Setelah tahun lalu berhasil membangun 53 desa wisata, Dinas Pariwisata Bali kembali 'ketagihan' mempersiapkan 11 desa wisata pada tahun ini. Sejumlah atraksi ditonjolkan, seperti atraksi adat, tradisi dan budaya khas.

”Agar tidak membosankan, pariwisata Bali harus menemukan inovasi baru. Desa wisata inilah jawabannya,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali (Kadispar) AA Gede Yuniartha Putra.

Wisata yang bisa dieksplorasi d Bali tidak hanya terpusat di Bali Selatan dan Tenggara, namun akan merata di sana. Ini dimaksudkan agar wisawatan lokal maupun mancanegara tidak bosan berkunjung ke Bali, sehingga desa wisata terbaru memiliki karakater yang berbeda dengan desa wisata yang lebih dulu ada.

Menurutnya, terpenting dari program desa wisata adalah penyebaran objek wisatawan, sehingga menjadi lebih luas. Dengan begitu, ekonomi masyarakat akan menyebar. Bali menargetkan, 100 desa di wilayahnya mengalami peningkatan pada 2 tahun mendatang.

Desa lainnya yang bertransformasi menjadi desa wisata, yakni Desa Suluk, yang berlokasi di Kecamatan Dolopo, sekitar 17 kilometer (km) dari Madiun. Di desa ini, wisatawan bisa menikmati durian yang langsung dipetik dari pohon.

Bergeser ke Yogyakarta, ada desa gersang dan tandus yang berhasil disulap menjadi destinasi wisata alam dan agro. Desa yang berjarak 4 km dari ibukota kecamatan Patuk, 20 km dari ibu kota kabupaten Gunung Kidul, dan 25 km dari ibu kota provinsi Yogyakarta ini bernama Desa Ngalanggeran.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut